Mama, Bidadari Surga Yang Allah Hadirkan ke Dunia

Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia.
Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Mama adalah perempuan teristimewa dalam hidup saya. Jika pepatah mengatakan kalau ayah adalah cinta pertama anak perempuan, maka ibu adalah sahabat sejatinya. Begitulah peran mama dalam hidup saya. Mama adalah ibu, sahabat terbaik, guru terbaik, penasehat terbaik, motivator terbaik, cheef terbaik, dokter pribadi terbaik, dan teladan terbaik yang mengajarkan saya untuk juga selalu memberikan yang terbaik pada apapun yang bisa saya lakukan.

Dari Mama saya belajar banyak tentang arti kehidupan. Bagaimana seorang perempuan menjalankan perannya sebagai istri, sebagai menantu, sebagai ibu, sebagai mertua dan sebagai nenek dari satu orang cucu.

Terlahir di lingkungan keluarga muslim Muhammadiyah yang taat membuat Mama sejak kecil sudah aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Semasa remaja nya mama sudah menjadi guru relawan di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Saat melihat foto-foto Mama waktu remaja, saya jadi ingat kisah Bu Guru Muslimah di film Laskar Pelangi. Seperti itulah Mama saya. Panggilannya pun sama; Ibu Guru Mus. Pagi pergi mengajar ke sekolah naik sepeda menyusuri perkampungan kecil , sorenya mengajar mengaji di surau dekat rumah nenek.

Selepas SMP Mama pun merantau ke Palembang untuk melanjutkan pendidikannya. Cukup lama tinggal di Palembang membuat Mama jago bikin pempek. Saya paling suka cuko pempek buatan Mama. Enaknya Juara! Tak hanya pempek, semua masakan Mama adalah favorit saya. Dan ini juga yang membuat saya salut, meskipun Mama bekerja dan berkarir, Mama tetap menjalankan perannya sebagai istri dan sebagai ibu dengan baik. Mama melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri, Mama sering memanjakan suami & anak-anaknya dengan memasak makanan kesukaan kami semua. Itulah yang membuat kami selalu rindu aroma masakan rumah. Saya sudah berpetualang ke beberapa negara di dunia yang kata orang terkenal dengan kelezatan makanannya, tapi bagi saya tetap tak ada yang lebih lezat dari masakan buatan mama. Karena masakan mama dibuat dengan bumbu cinta yang tak ada duanya di dunia.

Dari Mama pula saya belajar berorganisasi. Saya mengerti apa arti tanggung jawab saat Mama mulai mengajarkan kami bisnis kecil-kecilan saat kami masih SD. Ya, sejak SD saya & kakak saya sudah dilatih Mama untuk jualan. Kami jualan makanan dan mainan di Sekolah. Kami belajar mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepada kami. Belajar jujur, belajar bersosialisasi, dan belajar membangun relasi.

Mama yang juga pernah menjadi juara Lurah Teladan tingkat Provinsi itu juga merupakan tempat saya belajar tentang ilmu bermasyarakat, adab bertetangga dan berdakwah kepada sesama. Satu hal yang selalu saya ingat, Mama suka bagi-bagi makanan ke tetangga, kalau makanannya berkuah pasti dibanyakiin kuahnya supaya bisa dibagi juga dan Mama selalu mengajarkan saya untuk memberikan yang terbaik bagi sesama.

Dalam masalah agama, Mama adalah madrasah pertama yang mendidik anak-anaknya untuk tertib menjaga sholat 5 waktu. Saya masih ingat di ulang tahun saya yang ke 7 saya mendapat hadiah mukenah pertama dari Mama. Mama mengajak saya ke pasar dan membebaskan saya memilih mukenah yang saya suka. Saya senang sekali, meskipun mukenah nya agak kebesaran karena waktu itu mukenah anak belum banyak dijual dipasaran. Tapi dengan keterampilan Mama mengoperasikan mesin jahit, mukenah itupun jadi pas dibadan saya yang mungil.

Oh iya, bicara soal jahit menjahit, Mama itu yang paling kreatif deh. Saya juga masih ingat waktu dulu saya masih kecil Mama sering memberikan reward berupa boneka hasil jahitan tangan Mama sendiri kalau saya berhasil naik tingkat belajar baca Iqro’ nya. Mama juga rajin bikin kue untuk camilan anak-anaknya. Selain melatih kami untuk tidak jajan sembarangan, juga menjaga kebersihan makanan yang kami konsumsi.

Mama juga orang yang romantis,  darah seninya mengalir dalam diri saya. Saya percaya saya bisa jadi juara baca tulis puisi tingkat nasional di ajang POSPENAS dulu itu karena bakat turunan dari Mama.

Tentang kesetiaan saya belajar dari Mama. Sejak awal menikah, entah sudah berapa kali Mama mendampingi Papa berpindah-pindah tempat tugas. Dari satu daerah terpencil ke daerah terpencil lainnya. Mama selalu berusaha jadi pendamping terbaik untuk Papa. Sejak saya remaja Mama sudah berpesan kepada saya jika nanti jadi seorang istri dampingilah suami kemanapun ia pergi. Beradalah disisinya dalam apapun keadaannya, baik senang ataupun susah. Dan pesan itulah yang insyaAllah akan selalu saya jadikan pedoman dalam hidup saya; menjadi pendamping yang setia apapun keadaannya.

Gak akan ada habis-habisnya deh kalo udah cerita tentang Mama. Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia. Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Your Little Girl,

Rizki Pratiwi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s