The Rest of My Life

IMG_20170107_083055.jpg

Pagi itu langit begitu cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya sembari bertasbih memuji kebesaran Rabb nya. Aku sedang di dapur, menyiapkan makanan kesukaan kalian, membumbuinya dengan cinta agar jadi candu yang membuatmu dan anak-anak selalu rindu, rindu aroma masakan rumah. Walaupun seperti yang kau tahu, aku tidaklah mahir memasak, namun aku akan selalu berusaha membuat masakanku menjadi enak agar engkau dan anak-anak lebih mencintai masakan rumah daripada masakan di restoran-restoran mewah. Bukan karena alasan penghematan tentunya, ini lebih kepada ibadah, inilah jihad sederhana seorang perempuan yang sedang mengemban peran sebagai istri dan sebagai ibu di kepingan surga bernama rumah tangga.

Sembari menunggu masakan matang sesekali dari jendela aku mengamati kalian yang sedang asyik bercengkerama di halaman belakang. Anak-anak terlihat bahagia menikmati liburan mereka. Sayup-sayup terdengar suara merdu anak-anak kita yang sedang muroja’ah hafalan qur’an, disamping mereka kulihat engkau sedang menyimak penuh keharuan.

“al maalu wal banuuna zii natul hayaatiddunyaa, wal baaqiyaatus shoolihaatu khoirun ‘inda rabbika tsawaabaw wa khoirun amalaa…” ucap sang kakak yang kemudian disambung oleh sang adik “wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardho baarizah, wa hasyarnaahum falam nughoodir minhum ahadaa..”

ahh… tak terasa air matakupun menggenang di sudut mata,  ikut terharu bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah bagi para orang tua selain menyaksikan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu mencintai al-quran. “rabbi, habli minaashoolihiin…” lirihku dalam hati.

Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku, sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat al-quran yang kau dan anak-anak lafalkan. Bagiku itulah melodi paling merdu, lebih merdu dari alunan musik yang paling syahdu. Apalagi surah yang sedang kalian muroja’ah itu mengingatkanku pada sebuah peristiwa, moment teristimewa dalam hidup kita. Yang kelak pada suatu masa akan kita ceritakan kepada anak-anak kita, ketika nanti mereka bertanya: apa mahar yang dulu diberikan ayah saat menikahi ibu mereka.

“Mom.. I’m hungry..” ucap si kecil sambil memeluk kakiku dari belakang. Rupanya aroma masakanku yang sudah matang begitu menggodanya untuk menghampiriku ke dapur. “oke, I have finished, honey. Let’s breakfast” balasku sambil meraihnya, menggendongnya dan menatap matanya penuh cinta.

Dan matahari perlahan mulai naik ke permukaan, seiring rasa syukur kita dalam kebahagiaan yang sederhana.

Bumi Allah, 2027.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s