Matematika

Setiap weekend, saya berusaha mengagendakan waktu khusus untuk membaca buku-buku terkait parenting.

Weekend kali ini, saya memilih buku berjudul “Tuhan Pasti Ahli Matematika” karya Profesor Hadi Susanto, Beliau adalah profesor muda Indonesia. Saat ini beliau merupakan Associate Professor in Applied Mathematics di Universitas of Essex, UK.

img_20170128_202150

Mungkin ada yang bertanya-tanya; apa hubungannya buku ini dengan ilmu parenting?Kalau dilihat dari judulnya, buku ini memang tidak menjelaskan secara eksplisit tentang Parenting. Tapi mengapa saya memasukkannya dalam daftar list bacaan parenting? Karena buku ini memberikan pencerahan tentang bagaimana cara pandang kita terhadap matematika, bagaimana menjadikan matematika itu mengasyikkan & tidak menyeramkan seperti momok sebagian besar orang tentang matematika selama ini.

Nah, jika kelak Allah memercayakan saya menjadi ibu, insyaAllah, saya ingin menjadi ibu yang mampu memberikan sudut pandang positif kepada anak-anak saya tentang matematika, bahkan kalau bisa menjadikan mereka mencintai matematika. Sebab sejauh yang saya pahami, matematika adalah salah satu ilmu yang penting untuk dikuasai. Mengapa?

Karena ternyata matematika merupakan ilmu yang tak terpisahkan dari ilmu syari’at yang termaktub dalam al-quran & hadits. Menghitung waris itu pakai matematika, Ilmu Falak untuk mengetahui kalender hijriah terkait dengan shalat & puasa menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga pakai ilmu matematika, bahkan salah satu faktor kemenangan Rasulullah SAW dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah dalam menggunakan ilmu matematika sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah al Nabawiyah.

Sebelum Perang Badar, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa orang sahabat Nabi Saw, berhasil menangkap dua orang budak pasukan Quraisy. Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada budak tersebut, “beri tahukan kepadaku perihal orang-orang Quraisy, berapa jumlah mereka?” salah seorang budak itu menjawab, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Beliau bertanya, “Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, “Banyak.” Beliau bertanya lagi, “Berapa kekuatan mereka?” keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau lalu bertanya berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap harinya?” keduanya menjawab, “kadang-kadang sehari sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.”

Rasulullah Saw., bersabda, “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja diantara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits, Zam’ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.

Rasulullah Saw., lalu menghadap ke khalayak pasukan muslim, “inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan.”

Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut,tampak sekali Rasulullah Saw., mengetahui secara persisi kondisi kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum muslim dengan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada dibalik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw., ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari, kadang sembilan ekor, kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw., langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu beliau menanyakan jumlah pemuka kaum Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekedar nama. Namun hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?

Dan ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga  orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah -keduanya bersaudara- dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan sahabat nabi dari kalangan Muhajir.

Rasulullah Saw., mengirimkan tiga orang ksatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw., tidak akan menghadapkan sahabat yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingkan dengan ksatria yang memiliki jam terbang yang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.

Maka Rasulullah Saw., mengirimkan Ubaidah, Hamzah dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi’ah dan Ali menghadapi Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi’ah dan Al Walid terkapar. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama memberikan satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, ksatria muslim menang gemilang.

Itu sekedar satu contoh bahwa ilmu matematika sangat berguna dalam memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja diatas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah Swt.

Seorang hamba Allah yang cerdas menggunakan ilmu Matematika bisa melampaui kualitas ibadah hamba Allah yang lugu tidak menggunakan logika matematika. Contoh hal ini adalah kisah tentang dzikir Juwairiyah, istri Rasulullah Saw.

Imam muslim meriwayatkan, Nabi Saw., keluar dari sisi Juwairiyah pagi-pagi untuk shalat subuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu dhuha, sementara Juwairiyah masih disana. Rasulullah bertanya, “Kau masih duduk seperti ketika kutinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “iya.”. Maka Rasulullah Saw., bersabda, “Sungguh aku beritahukan kepadamu empat kalimat sebanyak tiga kali, jika empat kalimat itu dibandingkan dengan apa yang kau baca sejak tadi pagi akan mampu mengimbanginya. Empat kalimat itu adalah; Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi.”

Dalam hadits itu Juwairiyah berdzikir sejak subuh hingga dhuha. Mungkin jumlahnya sampai ribuan. Dan, dzikir itu bisa diimbangi dengan dzikir yang memakai logika matematika yang canggih yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw., yaitu empat kalimat dzikir yang dibaca tiga kali; Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi. Yang artinya, Maha suci Allah dan Maha terpuji Dia, sebanyak ciptaan-Nya, dan sebanyak ridha diri-Nya, dan sebanyak perhiasan arsy-Nya dan sejumlah kalimat-kalimat-Nya. Siapa yang tahu jumlah kalimat ciptaan Allah? hanya Allah saja. Sebanyak itulah jumlah kalimat dzikir yang dilafadzkan pada pagi itu. Itulah logika canggih matematika yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kecerdasan dan keahlian matematika memang terbukti telah membuat hidup manusia semakin berkualitas.

Buku karya Profesor Hadi Susanto ini adalah sebuah pilihan tepat untuk yang ingin mengenal matematika lebih dekat. Dituturkan dengan gaya bahasa yang asyik & renyah. Membuat kita seolah bukan sedang membahas matematika tapi sedang menikmati kumpulan cerpen yang menarik. Sebuah bacaan bergizi yang menginspirasi. Cocok untuk para pendidik maupun calon pendidik generasi bangsa ini.

Teriring do’a semoga kelak saya memiliki anak-anak yang pintar matematika selayaknya Alfiyah Ibnu Malik. Syukur-syukur kalo yang menjadi ayah dari anak-anak saya kelak ternyata juga pintar matematika. haha! aamiin! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s