Belajar dari Ainun Habibie

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.” ~ Ainun Habibie.

Ibu Ainun Habibie adalah salah satu perempuan Indonesia yang menginspirasi saya. Beliau adalah sosok perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan berpendidikan tinggi. Namun itu semua tidak lantas membuat beliau melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Beliau tetap  mempriotaskan keluarga di urutan nomor satu. Hal yang saya yakini menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan sang suami dan anak-anak tercinta hingga mengantarkan mereka menjadi putra terbaik bangsa yang mengharumkan nama Indonesia.

Suatu ketika Ibu Ainun ditanya, mengapa beliau tidak bekerja saat mendampingi Pak Habibie melanjutkan study S3 di Jerman, padahal di Jerman beliau juga punya kesempatan untuk tetap bekerja dan melanjutkan kariernya . Maka beginilah jawabannya:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?.

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”

Dari Ibu Ainun, saya belajar bahwa sebagai perempuan kita harus tahu skala prioritas, kapan saatnya terus melangkah ke depan, dan kapan saatnya harus sejenak berhenti.

Bukan soal bekerja atau tidak bekerja, tapi soal bagaimana memilah dan memilih prioritas yang lebih utama saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

Ya, hidup adalah pilihan. Dan masing-masing kita menjalani apa yang kita pilih. Bagi saya pribadi, keluarga adalah prioritas yang utama. Bukan berarti saya tidak ingin bekerja dan berkarir. Tapi bagi saya, karir terbaik seorang perempuan adalah saat ia bisa menjadi madrasah terbaik bagi keluarganya, khususnya bagi anak-anaknya kelak.

Maka itupula yang mendasari mengapa akhirnya saya mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ketika Allah memberikan peluang itu kepada saya. Tak pernah terpikir sebelumnya dibenak saya untuk melanjutkan pendidikan hingga strata tiga. Waktu itu saya sudah merasa cukup dengan gelar master yang sudah saya raih. Cita-cita saya selanjutnya adalah ingin menjadi sebaik-baik istri yang mendampingi suami dengan setia apapun keadaannya. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan saya percaya bahwa skenario hidup yang telah ditakdirkan Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya. Sesuatu yang sangat saya syukuri sekarang, saat satu persatu hikmahnya Tuhan tunjukkan. 🙂

Seperti yang dituturkan Dian Sastrowardoyo, artis multitalenta yang juga penuh inspirasi:

Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, perempuan harus berpendidikan tinggi. Karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”

Itu pula yang jadi motivasi saya saat ini. Saya melanjutkan study hingga PhD bukan karena ambisi, bukan pula karena saya ingin mengejar jabatan atau karir tapi agar kelak dimasa depan saya bisa menjadi sebaik-baik madrasah pertama bagi anak-anak yang akan saya lahirkan. InsyaAllah. 🙂

Dan mungkin agar kelak ketiba tiba saatnya saya dipertemukan Allah dengan jodoh sejati saya, saya telah selesai dengan diri saya. Hingga saya tinggal memfokuskan diri saja untuk menjadi sebaik-baik pendamping baginya. Seperti yang selalu dipesankan mama kepada saya sejak saya masih remaja:

“jadilah pendamping yang setia, apapun keadaaannya.”

Juga seperti yang ibu Ainun tuturkan saat Pak Habibie meminangnya sebagai isteri:

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.”

Begitulah kelak aku, saat menjadi pendamping hidupmu. InsyaAllah. Kamu, yang namanya telah tertulis di Lauhul mahfuzh itu. 🙂

The next Ainun,

Rizki Pratiwi Abdullah.

img_20170131_154222_728

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s