Duka Bulan Juli

Ruang tamu itu seketika hening, saat Lelaki pemilik Kost-an itu memulai pembicaraan seriusnya.

“Sebenarnya saya tidak berniat menyewakan lantai 2 rumah ini, mba. Karena memang rumah ini bukan untuk kost-kostan. Tapi istri saya sudah terlanjur menerima mba kemarin. kasihan katanya lihat mba nya kesulitan mencari rumah sewa yang rata-rata sudah pada penuh semua. Apalagi mba nya jauh dari sumatera. Jadi gini aja ya kalau memang mba mau tinggal disini ada syarat yang harus mba penuhi” ucap lelaki berwajah teduh itu dengan mimik muka yang serius.

Agak sedikit kaget mahasiswi baru itu mendengar penuturan dari bapak sang pemilik kost-an. Karena hal tersebut justru disampaikan sehari setelah ia resmi menempati lantai dua rumah itu. Namun ia beranikan diri untuk bertanya:

“Maaf, Pak, syarat apalagi ya? dan kenapa tidak disampaikan kepada saya sebelumnya?” Tanya mahasiwi baru itu dengan wajah sedikit bingung.
.
“Maaf ya, mba, Ibu kemarin lupa menyampaikan. Kebetulan kemarin itu Bapak juga lagi gak ada di rumah. Jadi ya kami pikir sekarang waktu yang tepat untuk menyampaikannya kepada mba” Tutur istri dari Bapak pemilik kost-an yang makin membuat bingung dan penasaran si mahasiswi baru.

Seketika hatinya diliputi kecemasan yang luar biasa. Bagaimana jika ia tidak mampu memenuhi syarat dadakan yang diminta pemilik Kost-an, kemana lagi ia harus mencari tempat tinggal baru dalam waktu sehari? sedangkan besok ia sudah harus fokus mengikuti matrikulasi. .
Dan ia sebenarnya sudah merasa sangat nyaman di rumah itu, karena letaknya yang strategis. Ia cukup berjalan kaki menuju kampus yang ada diseberang jalan. Jadi tidak perlu khawatir terlambat datang ke kampus dan terjebak kemacetan Jakarta, apalagi jalan menuju kampusnya itu terkenal dengan kemacetannya yang luar biasa. Selain itu dengan berjalan kaki ke kampus ia juga bisa sedikit menghemat biaya hidup. Maklum, biaya hidup di kota besar seperti Jakarta kan cukup mahal. Berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalanya. Hingga suara si Bapak Kost-an menyentakkan kembali kesadarannya

“Gimana mba, sudah siap mendengar persyaratan yang akan saya berikan? Soalnya kalau mba gak bersedia menerima syarat ini, sore ini juga mba harus angkat kaki dari rumah ini” ucap si Bapak, tegas

Mahasiswi baru itu sejenak memejamkan mata, ddalam hati sepenuh tawakal ia mengucap do’a: “Laa yukallifullahu nafsan illaa wus ‘ahaa….” kemudian dengan segenap kepasrahan ia menjawab pertanyaan dari Bapak Kost-an: “insyaAllah… silahkan bapak sampaikan syaratnya, jika saya rasa mampu akan saya penuhi, namun jika tidak, sesuai dengan yang telah Bapak sampaikan sore ini juga saya akan segera berkemas dan meninggalkan rumah ini”

Lelaki tua berwajah teduh itu tersenyum penuh arti. Sekilas ia menatap istrinya yang juga tersenyum ke arahnya, “jadi begini mba, syaratnya itu…..” sang bapak tampaknya sengaja menggantung ucapannya sehingga membuat mahasiswi baru itu kian penasaran

“Apa syaratnya, Pak?” Tanya mahasiswi baru mulai tak sabar

“Syaratnya mudah saja, mba harus bersedia kami anggap seperti anak sendiri. Kami berdua ini sudah tua, anak-anak kami semuanya sudah menikah dan punya tempat tinggal masing-masing. Lantai dua rumah ini sudah lama tidak dihuni sejak mereka semua pergi. Jadi mba tinggallah disini dan anggap kami seperti orang tua mba sendiri” ucap sang Bapak sambil menahan tawa seolah senang berhasil karena mengerjai “anaknya”

Mahasiswi baru itu masih setengah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Beberapa saat kemudian mereka bertiga tertawa penuh keakraban. Selayaknya orang tua dan anak yang baru bertemu setelah sekian lama perpisahan

Sejak saat itu pula, mahasiswi baru itu seperti menemukan keluarga baru di perantauan. Bapak dan Ibu itu sangat menyayanginya layaknya anak kandung mereka sendiri. Bahkan kepada tetangga sekitar, bapak dan ibu memperkenalkannya sebagai “anak bungsu ketemu gede”. Hampir disetiap kesempatan mereka pergi keluar rumah apakah untuk belanja bulanan, ke toko buku atau sekedar makan siang bersama diluar, Bapak & Ibu itu mengajaknya turut serta.

Setelah beberapa lama, mahasiswi itu baru menyadari bahwa rumah yang ditinggalinya itu memang bukan kost-kostan. Tapi salah satu perumahan elit dibilangan Jakarta Selatan. Ia baru menyadari hal itu setelah ia memperhatikan siapa tetangga-tetangganya.

Tetangga-tetangganya ternyata berasal dari beraneka latar belakang. Mulai dari pejabat penting salah satu kementerian, beberapa artis papan atas, pengacara terkenal, pejabat kepolisian, gitaris sebuah band kenamaan, hingga sutradara film yang telah melahirkan banyak karya-karya besar.

Ia jadi berpikir kok bisa ya dulu ia nyasar kesana? Bahkan dengan pede nya mau nyewa rumah di komplek itu. Tapi begitulah, manusia tidak pernah bisa menebak skenario Allah. Begitu banyak kemudahan yang Allah hadirkan bersama setiap kesulitan. Hanya saja kadang kita belum tahu hikmah dibalik semua/ kejadian itu.

Suatu hari ia ditimpa masalah besar yang membuat hatinya amat gusar. Ternyata hal itu diperhatikan oleh Bapak & Ibu angkatnya. Hingga suatu pagi diawal Bulan Ramadhan, Bapak & Ibu angkatnya itu mengajaknya ikut kajian rutin tafsir Quran ba’da subuh di masjid komplek. Kajian Tafsir Quran itu dipimpin langsung oleh salah satu tokoh agama yang selama ini sering ia lihat wajahnya muncul dilayar kaca saat penentuan awal ramadhan atau penentuan satu syawal.

Dan yang membuatnya amat sangat terharu adalah bapak angkatnya itu ternyata selepas kajian menyempatkan ngobrol dengan sang tokoh agama, lalu memintakan do’a untuk kemudahan urusan anak angkatnya. Karena Bapak meyakini doa orang sholeh itu, apalagi orang sholeh itu hafal dan faham isi alquran, insyaAllah diistijabah Allah. Karena ahlul Quran adalah ahlullah di muka bumi ini. Begitu Bapak sering menasehati.

Sesampainya dirumah sang Bapak menyampaikan ada beberapa do’a-do’a yang bersumber dari Al-quran yang tadi sengaja dicatatnya dari sang tokoh agama untuk dibaca & diamalkan. “Mudah-mudahan doa-do’a ini membantu meringankan beban masalahmu. Apalagi do’a-do’a ini bersumber dari Al-Quran. Al-Quran itu kan petunjuk hidup kita, pedoman, pembeda, juga obat bagi setiap ujian & musibah”. Ucap sang Bapak sambil membuka Al-Quran tafsir miliknya. “Coba kamu catat dan pahami juga tafsirnya ya” perintah bapak angkatnya

Mahasiswi itu tak bisa lagi menahan buliran bening yang sedari tadi sudah menggenang disudut matanya. Ia menangis haru sekaligus bahagia, betapa Allah begitu mencintainya dengan mengirimkan orang-orang yang menjaga dan menyayanginya karena Allah.

Bapak & Ibu itu memang cuma orang tua angkatnya. Tapi mereka telah menjaganya seperti menjaga anak gadisnya sendiri.

Ibu angkatnya adalah orang yang paling khawatir saat ia jatuh sakit. Ibu akan sibuk memasak masakan apa saja yang bisa mengundang selera makannya. Ibu juga sering mencandainya, “kalau aja ibu masih punya anak laki yang belum nikah, udah ibu jodohin deh sama kamu” tutur sang ibu yang kontan membuat wajahnya seketika bersemu merah.

Bapak angkatnya pun tak kalah perhatiannya. Pernah suatu hari Bapak memarahi sopir taxi nakal yang mencoba muterin jalan sehingga membuat anak angkatnya itu terlambat memenuhi janji dengan dosen pembimbingnya.

Bapak angkatnya juga yang selalu setia menunggu kedatangannya di rumah mereka pasca libur panjang semesteran. Meskipun ia memegang kunci serep dan berpesan agar Bapak angkatnya itu tak perlu menunggunya karena ia baru akan tiba dirumah tengah malam sebab jadwal penerbangan pesawatnya mengalami keterlambatan. Namun Bapak tetap keukeuh menunggunya sampai ia datang.

Kadang-kadang semua kebaikan Bapak & Ibu angkatnya itu membuatnya benar-benar malu kepada mereka, terlebih malu kepada Allah. Betapa Allah Maha baik. Sangat baik.

Saat ia telah menyelesaikan study nya dan harus pergi meninggalkan mereka, Bapak & Ibu angkatnya itu mengatakan bahwa pintu rumah mereka sampai kapanpun akan selalu terbuka untuknya.

Dan setiap kali ke Jakarta, memang rumah itulah tempat pulangnya. Sikap Bapak & Ibu angkatnya pun tak pernah berubah, selalu hangat dan penuh cinta.

Disatu titik balik hidupnya, pernah ia merasa hilang arah. Tak tahu harus kemana dan mengadu pada siapa. Dunia seakan gelap dan berhenti berputar. Bapak dan Ibu angkatnya lah yang membuatnya tetap tegar. Membela & melindunginya dikala ia lemah. Hingga ia kembali berdiri dengan gagah menghadapi berbagai lika-liku kehidupan dunia.

Hingga saat itu pun tiba, saat dimana tak satupun bisa menghalanginya. Lebaran kemarin, Bapak angkatnya terpaksa dirawat dirumah sakit. Dokter mendiagnosa Bapak angkatnya terkena gagal ginjal. Entah sudah berapa kali bapak angkatnya menjalani cuci darah. Dan Allah begitu mencintai Bapak angkatnya itu. Allah tak ingin membuat si Bapak berlama-lama merasakan rasa sakitnya. Hingga Allah bersegera memanggil Bapak angkatnya. Kemarin malam Bapak angkatnya itu berpulang. Menghadap sang pemilik Alam dalam hening & tenang.

Innalillahi wa inna ilayhi rooji’un…..

Masih teringat jelas percakapan terakhir dengan Bapak angkatnya via telpon saat idul fitri, dengan suara yang berat diujung telepon sana Bapak angkatnya masih sempat bercanda:

“Bapak gak apa-apa, Bapak ini kan selama ini udah dikasih sehat terus sama Allah, ya sekali-kali boleh lah dikasih sakit. Masa Bapak gak boleh sakit dikit toh, Nduk? Hehehe” candanya. “Oh iya, kapan Bapak dikirimin undangan? Masa masih belum ketemu juga. Jangan lama-lama ya, Bapak tunggu undangannya, mumpung Bapak masih sehat…”
Tiap kali teringat percakapan itu, airmatanya mengharu biru. Ah.. Bapak, maafkan anakmu yang bandel ini karena belum bisa mewujudkan impian Bapak. Selamat Jalan Bapak, semoga Allah menerima semua amal ibadah Bapak, mengampuni Bapak dan menempatkan Bapak di surga-Nya. Aamiin”

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu.

Duka Bulan Juli,
ditulis dalam perjalanan mengenang Bapak, 2017

Family isn’t always blood. It’s the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile, and who love you no matter what.
– Unknown

Advertisements