Masa Depan

Lelaki yang siap menikah tidak akan menanyakan masa lalu mu, Tapi membicarakan masa depan bersama – Hamas Syahid Izzuddin.

Advertisements

Anak Perempuan Ibu

Besok kalau kamu menjadi pasangan seseorang, katakan padanya untuk berjanji & mengizinkanmu menjadi apapun yang kamu mau karena menjadi isteri bukan berarti tidak lagi bisa mewujudkan mimpi. Tunjukkan padanya bahwa kamu tetap memahami peranmu dengan baik & tetap bisa menunjukkan tanggung jawabmu.

Bila besok kamu menjadi pasangan seseorang, biarkan dia memimpinmu tapi jangan biarkan dia menguasaimu karena hidup seseorang tidak ada dalam kuasa tangan manusia. Kamu tetap memiliki pendapat, kamu tetap memiliki perasaan, yang itu semua harus bisa kamu kompromikan.

Mengalah tidak selalu menyelesaikan masalah. Pastikan bahwa laki-laki yang nantinya mengajakmu hidup bersama adalah laki-laki yang bisa diajak berdiskusi, bukan menang sendiri. Pastikan bahwa dia bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang luas.

Bagaimana caranya kamu tahu semua itu? Kamu bisa mengenali pilihan katanya ketika berbicara. Kamu pun bisa mengenali dari setiap keputusan yang dia ambil dalam hidupnya sebelum dia bertemu denganmu.

Katakan padanya bahwa kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Katakan padanya bahwa suatu hari nanti kamu pasti akan rindu ibu & ayahmu, pastikan dia laki-laki yang mengerti hal itu. Karena ibumu telah menjadi ibunya, ayahmu telah menjadi ayahnya.

Katakan padanya bahwa suatu hari dia akan menjadi sebab besar kamu masuk surga, sementara surganya ada pada restu orang tua. Buatlah dia percaya bahwa kamu akan membantunya untuk berbakti kepada orang tuanya juga kepada orangtuamu. Karena anak perempuan ibu ini akan menjadi bidadari semesta. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi pendamping laki-laki biasa. Dia harus luar biasa, setidaknya menurut ibu.

img_20170222_083403

Langit Paris

img_20170214_094851

Untukmu, yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Di Langit Paris kubisikkan do’a;

Semoga Allah senantiasa menjagamu, sebagaimana Allah telah menjagakan aku untukmu.

Hingga waktu itu kelak tiba, saat takdir mempertemukan kita dalam mitsaqan ghalizan yang menggetarkan arsy-Nya.

Lalu bersama kita menggumamkan lirih:

Rabbanaa hablanaa min azwajinaa, wa dzurriyyatina Qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiinaa imaama.

aamiin.

Belajar dari Ainun Habibie

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.” ~ Ainun Habibie.

Ibu Ainun Habibie adalah salah satu perempuan Indonesia yang menginspirasi saya. Beliau adalah sosok perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan berpendidikan tinggi. Namun itu semua tidak lantas membuat beliau melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Beliau tetap  mempriotaskan keluarga di urutan nomor satu. Hal yang saya yakini menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan sang suami dan anak-anak tercinta hingga mengantarkan mereka menjadi putra terbaik bangsa yang mengharumkan nama Indonesia.

Suatu ketika Ibu Ainun ditanya, mengapa beliau tidak bekerja saat mendampingi Pak Habibie melanjutkan study S3 di Jerman, padahal di Jerman beliau juga punya kesempatan untuk tetap bekerja dan melanjutkan kariernya . Maka beginilah jawabannya:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?.

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”

Dari Ibu Ainun, saya belajar bahwa sebagai perempuan kita harus tahu skala prioritas, kapan saatnya terus melangkah ke depan, dan kapan saatnya harus sejenak berhenti.

Bukan soal bekerja atau tidak bekerja, tapi soal bagaimana memilah dan memilih prioritas yang lebih utama saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

Ya, hidup adalah pilihan. Dan masing-masing kita menjalani apa yang kita pilih. Bagi saya pribadi, keluarga adalah prioritas yang utama. Bukan berarti saya tidak ingin bekerja dan berkarir. Tapi bagi saya, karir terbaik seorang perempuan adalah saat ia bisa menjadi madrasah terbaik bagi keluarganya, khususnya bagi anak-anaknya kelak.

Maka itupula yang mendasari mengapa akhirnya saya mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ketika Allah memberikan peluang itu kepada saya. Tak pernah terpikir sebelumnya dibenak saya untuk melanjutkan pendidikan hingga strata tiga. Waktu itu saya sudah merasa cukup dengan gelar master yang sudah saya raih. Cita-cita saya selanjutnya adalah ingin menjadi sebaik-baik istri yang mendampingi suami dengan setia apapun keadaannya. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan saya percaya bahwa skenario hidup yang telah ditakdirkan Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya. Sesuatu yang sangat saya syukuri sekarang, saat satu persatu hikmahnya Tuhan tunjukkan. 🙂

Seperti yang dituturkan Dian Sastrowardoyo, artis multitalenta yang juga penuh inspirasi:

Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, perempuan harus berpendidikan tinggi. Karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”

Itu pula yang jadi motivasi saya saat ini. Saya melanjutkan study hingga PhD bukan karena ambisi, bukan pula karena saya ingin mengejar jabatan atau karir tapi agar kelak dimasa depan saya bisa menjadi sebaik-baik madrasah pertama bagi anak-anak yang akan saya lahirkan. InsyaAllah. 🙂

Dan mungkin agar kelak ketiba tiba saatnya saya dipertemukan Allah dengan jodoh sejati saya, saya telah selesai dengan diri saya. Hingga saya tinggal memfokuskan diri saja untuk menjadi sebaik-baik pendamping baginya. Seperti yang selalu dipesankan mama kepada saya sejak saya masih remaja:

“jadilah pendamping yang setia, apapun keadaaannya.”

Juga seperti yang ibu Ainun tuturkan saat Pak Habibie meminangnya sebagai isteri:

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.”

Begitulah kelak aku, saat menjadi pendamping hidupmu. InsyaAllah. Kamu, yang namanya telah tertulis di Lauhul mahfuzh itu. 🙂

The next Ainun,

Rizki Pratiwi Abdullah.

img_20170131_154222_728

My Mother My Inspiration

img_20170127_230431

If you ask me who knows the best about the meaning of education and I would say; my mother.

a mother is a light from the seventh galaxy. That brightens my soul, endless and eternally. She’s the wind that lays the music of life, so beautiful and miraculous.

After the sunset my mom always took me out and showed me shiny blinking stars, there is Mars, but we both always called them as Lintang Lantik. And my mom always believed, I can reach that star with my knowledge.

She taught me that God knows things beyond everything. For me, she were a heaven. From what I believe from The Hadith that say ;”Whom do you  should respect the most? and the answer would be; your mother, your mother, your mother, then your father.

– Mars.

Menjadi Khadijah mu

Aku ingin mencintaimu dengan ketentuan-Nya, dengan cinta yang halal di mata-Nya.

Aku ingin mencintaimu dengan keridho’an-Nya, seperti Khadijah mencintai Muhammadnya.

Kamu, yang namanya tertulis di Lauhul Mahfuzh itu.

~ Rizki Pratiwi Abdullah.

“She believe in me when no one else did. She accepted me when people rejected me, and she helped me when there was no one else to lend me a helping hand”

~Prophet Muhammad (PBUH) speaking about his wife, Khadija (RA).

img_20170127_113618_207

Ketika Cinta (ku) Bertasbih

Dulu saya mengira kisah Anna Althafunnisa hanyalah sebuah cerita. Namun ternyata kisah itu juga bisa terjadi di dunia nyata. Tapi seperti yang selalu saya yakini bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sehelai daun yang jatuh pun telah Allah tetapkan ketentuannya. Demikian pula kisah perjalanan hidup manusia. Kadang, kenyataannya malah lebih tragis dari sebuah kisah di buku cerita. Namun Allah tetapkan begitu bukan tanpa makna. Selalu ada hikmah yang Allah selipkan didalamnya.  Hikmah yang dibungkus lewat ujian keimanan. Ujian yang Allah berikan untuk menaikkan derajat seorang insan sebagai hamba-hamba pilihan.

Dan Allah paling tahu, bahwa hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjalani ujian itu pasti mampu. Tak akan Allah berikan ujian melebihi batas kemampuan. Yang diuji dengan ujian hidup yang berat berarti Allah tahu hamba-Nya itu kuat.

Maka saat sedang diuji berhentilah bertanya : “Why me?”. Apalagi jika Allah dengan ketetapan-Nya sudah berkata: “Why not?”. Jalani saja, terima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya. Sebab kadang sesuatu yang baik di mata manusia belum tentu baik dimata Allah, demikian pula sesuatu yang dimata manusia dianggap buruk bisa jadi itulah ketentuan terbaik menurut Allah.

Dari perjalanan hidup, dan dari kisah Anna Althafunnisa, saya belajar bahwa Jodoh tak akan tertukar. Sesuatu yang bukan jodohnya akan Allah pisahkan dengan jalan-Nya. Kemudian akan Allah pertemukan dengan jodoh sejatinya. Sesuai janji Allah; yang baik untuk yang baik pula, demikian sebaliknya.

Maka inilah do’aku untukmu yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh itu:

Semoga Allah senantiasa menjagamu, sebagaimana Allah  menjagakan aku untukmu. Semoga kita dimampukan untuk istiqomah menjaga kesucian cinta karena Allah, sebagaimana cintanya Ali kepada Fathimah, atau cintanya Rasulullah kepada Khadijah.

Sebab yang terjaga, hanya untuk yang benar-benar menjaga. Keep istiqomah!

Your Anna Althafunnisa,
Rizki Pratiwi Abdullah.

The Rest of My Life

IMG_20170107_083055.jpg

Pagi itu langit begitu cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya sembari bertasbih memuji kebesaran Rabb nya. Aku sedang di dapur, menyiapkan makanan kesukaan kalian, membumbuinya dengan cinta agar jadi candu yang membuatmu dan anak-anak selalu rindu, rindu aroma masakan rumah. Walaupun seperti yang kau tahu, aku tidaklah mahir memasak, namun aku akan selalu berusaha membuat masakanku menjadi enak agar engkau dan anak-anak lebih mencintai masakan rumah daripada masakan di restoran-restoran mewah. Bukan karena alasan penghematan tentunya, ini lebih kepada ibadah, inilah jihad sederhana seorang perempuan yang sedang mengemban peran sebagai istri dan sebagai ibu di kepingan surga bernama rumah tangga.

Sembari menunggu masakan matang sesekali dari jendela aku mengamati kalian yang sedang asyik bercengkerama di halaman belakang. Anak-anak terlihat bahagia menikmati liburan mereka. Sayup-sayup terdengar suara merdu anak-anak kita yang sedang muroja’ah hafalan qur’an, disamping mereka kulihat engkau sedang menyimak penuh keharuan.

“al maalu wal banuuna zii natul hayaatiddunyaa, wal baaqiyaatus shoolihaatu khoirun ‘inda rabbika tsawaabaw wa khoirun amalaa…” ucap sang kakak yang kemudian disambung oleh sang adik “wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardho baarizah, wa hasyarnaahum falam nughoodir minhum ahadaa..”

ahh… tak terasa air matakupun menggenang di sudut mata,  ikut terharu bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah bagi para orang tua selain menyaksikan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu mencintai al-quran. “rabbi, habli minaashoolihiin…” lirihku dalam hati.

Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku, sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat al-quran yang kau dan anak-anak lafalkan. Bagiku itulah melodi paling merdu, lebih merdu dari alunan musik yang paling syahdu. Apalagi surah yang sedang kalian muroja’ah itu mengingatkanku pada sebuah peristiwa, moment teristimewa dalam hidup kita. Yang kelak pada suatu masa akan kita ceritakan kepada anak-anak kita, ketika nanti mereka bertanya: apa mahar yang dulu diberikan ayah saat menikahi ibu mereka.

“Mom.. I’m hungry..” ucap si kecil sambil memeluk kakiku dari belakang. Rupanya aroma masakanku yang sudah matang begitu menggodanya untuk menghampiriku ke dapur. “oke, I have finished, honey. Let’s breakfast” balasku sambil meraihnya, menggendongnya dan menatap matanya penuh cinta.

Dan matahari perlahan mulai naik ke permukaan, seiring rasa syukur kita dalam kebahagiaan yang sederhana.

Bumi Allah, 2027.

The Choice

Pilih Bungkus atau Isi;
Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus Bungkusnya saja dan mengabaikan ISI-nya.
Maka, bedakanlah apa itu “BUNGKUS”-nya dan apa itu “ISI”-nya.
“Rumah yang indah” hanya bungkusnya,
“Keluarga bahagia” itu isinya.
“Pesta pernikahan” hanya bungkusnya,
“Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab” itu isinya.
“Ranjang mewah” hanya bungkusnya,
“Tidur nyenyak” itu isinya.
“Kekayaan” itu hanya bungkusnya,
“Hati yang gembira” itu isinya.
“Makan enak” hanya bungkusnya,
“Gizi, energi, dan sehat” itu isinya.
“Kecantikan dan Ketampanan” hanya bungkusnya; “Kepribadian dan Hati” itu isinya.
“Bicara” itu hanya bungkusnya,
“Kenyataan” itu isinya.
“Buku” hanya bungkusnya;
“Pengetahuan” itu isinya.
“Jabatan” hanya bungkusnya,
“Pengabdian dan pelayanan” itu isinya.
“Pergi ke tempat ibadah” itu bungkusnya,
“Melakukan Ajaran Agama” itu isinya.
“Kharisma” hanya bungkusnya,
“Karakter” itu isinya.
Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Oleh: Emha Ainun Nadjib