Anak Perempuan Ibu

Besok kalau kamu menjadi pasangan seseorang, katakan padanya untuk berjanji & mengizinkanmu menjadi apapun yang kamu mau karena menjadi isteri bukan berarti tidak lagi bisa mewujudkan mimpi. Tunjukkan padanya bahwa kamu tetap memahami peranmu dengan baik & tetap bisa menunjukkan tanggung jawabmu.

Bila besok kamu menjadi pasangan seseorang, biarkan dia memimpinmu tapi jangan biarkan dia menguasaimu karena hidup seseorang tidak ada dalam kuasa tangan manusia. Kamu tetap memiliki pendapat, kamu tetap memiliki perasaan, yang itu semua harus bisa kamu kompromikan.

Mengalah tidak selalu menyelesaikan masalah. Pastikan bahwa laki-laki yang nantinya mengajakmu hidup bersama adalah laki-laki yang bisa diajak berdiskusi, bukan menang sendiri. Pastikan bahwa dia bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang luas.

Bagaimana caranya kamu tahu semua itu? Kamu bisa mengenali pilihan katanya ketika berbicara. Kamu pun bisa mengenali dari setiap keputusan yang dia ambil dalam hidupnya sebelum dia bertemu denganmu.

Katakan padanya bahwa kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Katakan padanya bahwa suatu hari nanti kamu pasti akan rindu ibu & ayahmu, pastikan dia laki-laki yang mengerti hal itu. Karena ibumu telah menjadi ibunya, ayahmu telah menjadi ayahnya.

Katakan padanya bahwa suatu hari dia akan menjadi sebab besar kamu masuk surga, sementara surganya ada pada restu orang tua. Buatlah dia percaya bahwa kamu akan membantunya untuk berbakti kepada orang tuanya juga kepada orangtuamu. Karena anak perempuan ibu ini akan menjadi bidadari semesta. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi pendamping laki-laki biasa. Dia harus luar biasa, setidaknya menurut ibu.

img_20170222_083403

Advertisements

Belajar dari Ainun Habibie

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.” ~ Ainun Habibie.

Ibu Ainun Habibie adalah salah satu perempuan Indonesia yang menginspirasi saya. Beliau adalah sosok perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan berpendidikan tinggi. Namun itu semua tidak lantas membuat beliau melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Beliau tetap  mempriotaskan keluarga di urutan nomor satu. Hal yang saya yakini menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan sang suami dan anak-anak tercinta hingga mengantarkan mereka menjadi putra terbaik bangsa yang mengharumkan nama Indonesia.

Suatu ketika Ibu Ainun ditanya, mengapa beliau tidak bekerja saat mendampingi Pak Habibie melanjutkan study S3 di Jerman, padahal di Jerman beliau juga punya kesempatan untuk tetap bekerja dan melanjutkan kariernya . Maka beginilah jawabannya:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?.

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”

Dari Ibu Ainun, saya belajar bahwa sebagai perempuan kita harus tahu skala prioritas, kapan saatnya terus melangkah ke depan, dan kapan saatnya harus sejenak berhenti.

Bukan soal bekerja atau tidak bekerja, tapi soal bagaimana memilah dan memilih prioritas yang lebih utama saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

Ya, hidup adalah pilihan. Dan masing-masing kita menjalani apa yang kita pilih. Bagi saya pribadi, keluarga adalah prioritas yang utama. Bukan berarti saya tidak ingin bekerja dan berkarir. Tapi bagi saya, karir terbaik seorang perempuan adalah saat ia bisa menjadi madrasah terbaik bagi keluarganya, khususnya bagi anak-anaknya kelak.

Maka itupula yang mendasari mengapa akhirnya saya mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ketika Allah memberikan peluang itu kepada saya. Tak pernah terpikir sebelumnya dibenak saya untuk melanjutkan pendidikan hingga strata tiga. Waktu itu saya sudah merasa cukup dengan gelar master yang sudah saya raih. Cita-cita saya selanjutnya adalah ingin menjadi sebaik-baik istri yang mendampingi suami dengan setia apapun keadaannya. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan saya percaya bahwa skenario hidup yang telah ditakdirkan Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya. Sesuatu yang sangat saya syukuri sekarang, saat satu persatu hikmahnya Tuhan tunjukkan. 🙂

Seperti yang dituturkan Dian Sastrowardoyo, artis multitalenta yang juga penuh inspirasi:

Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, perempuan harus berpendidikan tinggi. Karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”

Itu pula yang jadi motivasi saya saat ini. Saya melanjutkan study hingga PhD bukan karena ambisi, bukan pula karena saya ingin mengejar jabatan atau karir tapi agar kelak dimasa depan saya bisa menjadi sebaik-baik madrasah pertama bagi anak-anak yang akan saya lahirkan. InsyaAllah. 🙂

Dan mungkin agar kelak ketiba tiba saatnya saya dipertemukan Allah dengan jodoh sejati saya, saya telah selesai dengan diri saya. Hingga saya tinggal memfokuskan diri saja untuk menjadi sebaik-baik pendamping baginya. Seperti yang selalu dipesankan mama kepada saya sejak saya masih remaja:

“jadilah pendamping yang setia, apapun keadaaannya.”

Juga seperti yang ibu Ainun tuturkan saat Pak Habibie meminangnya sebagai isteri:

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.”

Begitulah kelak aku, saat menjadi pendamping hidupmu. InsyaAllah. Kamu, yang namanya telah tertulis di Lauhul mahfuzh itu. 🙂

The next Ainun,

Rizki Pratiwi Abdullah.

img_20170131_154222_728

My Mother My Inspiration

img_20170127_230431

If you ask me who knows the best about the meaning of education and I would say; my mother.

a mother is a light from the seventh galaxy. That brightens my soul, endless and eternally. She’s the wind that lays the music of life, so beautiful and miraculous.

After the sunset my mom always took me out and showed me shiny blinking stars, there is Mars, but we both always called them as Lintang Lantik. And my mom always believed, I can reach that star with my knowledge.

She taught me that God knows things beyond everything. For me, she were a heaven. From what I believe from The Hadith that say ;”Whom do you  should respect the most? and the answer would be; your mother, your mother, your mother, then your father.

– Mars.

Mama, Bidadari Surga Yang Allah Hadirkan ke Dunia

Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia.
Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Mama adalah perempuan teristimewa dalam hidup saya. Jika pepatah mengatakan kalau ayah adalah cinta pertama anak perempuan, maka ibu adalah sahabat sejatinya. Begitulah peran mama dalam hidup saya. Mama adalah ibu, sahabat terbaik, guru terbaik, penasehat terbaik, motivator terbaik, cheef terbaik, dokter pribadi terbaik, dan teladan terbaik yang mengajarkan saya untuk juga selalu memberikan yang terbaik pada apapun yang bisa saya lakukan.

Dari Mama saya belajar banyak tentang arti kehidupan. Bagaimana seorang perempuan menjalankan perannya sebagai istri, sebagai menantu, sebagai ibu, sebagai mertua dan sebagai nenek dari satu orang cucu.

Terlahir di lingkungan keluarga muslim Muhammadiyah yang taat membuat Mama sejak kecil sudah aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Semasa remaja nya mama sudah menjadi guru relawan di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Saat melihat foto-foto Mama waktu remaja, saya jadi ingat kisah Bu Guru Muslimah di film Laskar Pelangi. Seperti itulah Mama saya. Panggilannya pun sama; Ibu Guru Mus. Pagi pergi mengajar ke sekolah naik sepeda menyusuri perkampungan kecil , sorenya mengajar mengaji di surau dekat rumah nenek.

Selepas SMP Mama pun merantau ke Palembang untuk melanjutkan pendidikannya. Cukup lama tinggal di Palembang membuat Mama jago bikin pempek. Saya paling suka cuko pempek buatan Mama. Enaknya Juara! Tak hanya pempek, semua masakan Mama adalah favorit saya. Dan ini juga yang membuat saya salut, meskipun Mama bekerja dan berkarir, Mama tetap menjalankan perannya sebagai istri dan sebagai ibu dengan baik. Mama melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri, Mama sering memanjakan suami & anak-anaknya dengan memasak makanan kesukaan kami semua. Itulah yang membuat kami selalu rindu aroma masakan rumah. Saya sudah berpetualang ke beberapa negara di dunia yang kata orang terkenal dengan kelezatan makanannya, tapi bagi saya tetap tak ada yang lebih lezat dari masakan buatan mama. Karena masakan mama dibuat dengan bumbu cinta yang tak ada duanya di dunia.

Dari Mama pula saya belajar berorganisasi. Saya mengerti apa arti tanggung jawab saat Mama mulai mengajarkan kami bisnis kecil-kecilan saat kami masih SD. Ya, sejak SD saya & kakak saya sudah dilatih Mama untuk jualan. Kami jualan makanan dan mainan di Sekolah. Kami belajar mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepada kami. Belajar jujur, belajar bersosialisasi, dan belajar membangun relasi.

Mama yang juga pernah menjadi juara Lurah Teladan tingkat Provinsi itu juga merupakan tempat saya belajar tentang ilmu bermasyarakat, adab bertetangga dan berdakwah kepada sesama. Satu hal yang selalu saya ingat, Mama suka bagi-bagi makanan ke tetangga, kalau makanannya berkuah pasti dibanyakiin kuahnya supaya bisa dibagi juga dan Mama selalu mengajarkan saya untuk memberikan yang terbaik bagi sesama.

Dalam masalah agama, Mama adalah madrasah pertama yang mendidik anak-anaknya untuk tertib menjaga sholat 5 waktu. Saya masih ingat di ulang tahun saya yang ke 7 saya mendapat hadiah mukenah pertama dari Mama. Mama mengajak saya ke pasar dan membebaskan saya memilih mukenah yang saya suka. Saya senang sekali, meskipun mukenah nya agak kebesaran karena waktu itu mukenah anak belum banyak dijual dipasaran. Tapi dengan keterampilan Mama mengoperasikan mesin jahit, mukenah itupun jadi pas dibadan saya yang mungil.

Oh iya, bicara soal jahit menjahit, Mama itu yang paling kreatif deh. Saya juga masih ingat waktu dulu saya masih kecil Mama sering memberikan reward berupa boneka hasil jahitan tangan Mama sendiri kalau saya berhasil naik tingkat belajar baca Iqro’ nya. Mama juga rajin bikin kue untuk camilan anak-anaknya. Selain melatih kami untuk tidak jajan sembarangan, juga menjaga kebersihan makanan yang kami konsumsi.

Mama juga orang yang romantis,  darah seninya mengalir dalam diri saya. Saya percaya saya bisa jadi juara baca tulis puisi tingkat nasional di ajang POSPENAS dulu itu karena bakat turunan dari Mama.

Tentang kesetiaan saya belajar dari Mama. Sejak awal menikah, entah sudah berapa kali Mama mendampingi Papa berpindah-pindah tempat tugas. Dari satu daerah terpencil ke daerah terpencil lainnya. Mama selalu berusaha jadi pendamping terbaik untuk Papa. Sejak saya remaja Mama sudah berpesan kepada saya jika nanti jadi seorang istri dampingilah suami kemanapun ia pergi. Beradalah disisinya dalam apapun keadaannya, baik senang ataupun susah. Dan pesan itulah yang insyaAllah akan selalu saya jadikan pedoman dalam hidup saya; menjadi pendamping yang setia apapun keadaannya.

Gak akan ada habis-habisnya deh kalo udah cerita tentang Mama. Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia. Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Your Little Girl,

Rizki Pratiwi.