Anak Perempuan Ibu

Besok kalau kamu menjadi pasangan seseorang, katakan padanya untuk berjanji & mengizinkanmu menjadi apapun yang kamu mau karena menjadi isteri bukan berarti tidak lagi bisa mewujudkan mimpi. Tunjukkan padanya bahwa kamu tetap memahami peranmu dengan baik & tetap bisa menunjukkan tanggung jawabmu.

Bila besok kamu menjadi pasangan seseorang, biarkan dia memimpinmu tapi jangan biarkan dia menguasaimu karena hidup seseorang tidak ada dalam kuasa tangan manusia. Kamu tetap memiliki pendapat, kamu tetap memiliki perasaan, yang itu semua harus bisa kamu kompromikan.

Mengalah tidak selalu menyelesaikan masalah. Pastikan bahwa laki-laki yang nantinya mengajakmu hidup bersama adalah laki-laki yang bisa diajak berdiskusi, bukan menang sendiri. Pastikan bahwa dia bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang luas.

Bagaimana caranya kamu tahu semua itu? Kamu bisa mengenali pilihan katanya ketika berbicara. Kamu pun bisa mengenali dari setiap keputusan yang dia ambil dalam hidupnya sebelum dia bertemu denganmu.

Katakan padanya bahwa kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Katakan padanya bahwa suatu hari nanti kamu pasti akan rindu ibu & ayahmu, pastikan dia laki-laki yang mengerti hal itu. Karena ibumu telah menjadi ibunya, ayahmu telah menjadi ayahnya.

Katakan padanya bahwa suatu hari dia akan menjadi sebab besar kamu masuk surga, sementara surganya ada pada restu orang tua. Buatlah dia percaya bahwa kamu akan membantunya untuk berbakti kepada orang tuanya juga kepada orangtuamu. Karena anak perempuan ibu ini akan menjadi bidadari semesta. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi pendamping laki-laki biasa. Dia harus luar biasa, setidaknya menurut ibu.

img_20170222_083403

Langit Paris

img_20170214_094851

Untukmu, yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Di Langit Paris kubisikkan do’a;

Semoga Allah senantiasa menjagamu, sebagaimana Allah telah menjagakan aku untukmu.

Hingga waktu itu kelak tiba, saat takdir mempertemukan kita dalam mitsaqan ghalizan yang menggetarkan arsy-Nya.

Lalu bersama kita menggumamkan lirih:

Rabbanaa hablanaa min azwajinaa, wa dzurriyyatina Qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiinaa imaama.

aamiin.

Menjadi Khadijah mu

Aku ingin mencintaimu dengan ketentuan-Nya, dengan cinta yang halal di mata-Nya.

Aku ingin mencintaimu dengan keridho’an-Nya, seperti Khadijah mencintai Muhammadnya.

Kamu, yang namanya tertulis di Lauhul Mahfuzh itu.

~ Rizki Pratiwi Abdullah.

“She believe in me when no one else did. She accepted me when people rejected me, and she helped me when there was no one else to lend me a helping hand”

~Prophet Muhammad (PBUH) speaking about his wife, Khadija (RA).

img_20170127_113618_207

Ketika Cinta (ku) Bertasbih

Dulu saya mengira kisah Anna Althafunnisa hanyalah sebuah cerita. Namun ternyata kisah itu juga bisa terjadi di dunia nyata. Tapi seperti yang selalu saya yakini bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sehelai daun yang jatuh pun telah Allah tetapkan ketentuannya. Demikian pula kisah perjalanan hidup manusia. Kadang, kenyataannya malah lebih tragis dari sebuah kisah di buku cerita. Namun Allah tetapkan begitu bukan tanpa makna. Selalu ada hikmah yang Allah selipkan didalamnya.  Hikmah yang dibungkus lewat ujian keimanan. Ujian yang Allah berikan untuk menaikkan derajat seorang insan sebagai hamba-hamba pilihan.

Dan Allah paling tahu, bahwa hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjalani ujian itu pasti mampu. Tak akan Allah berikan ujian melebihi batas kemampuan. Yang diuji dengan ujian hidup yang berat berarti Allah tahu hamba-Nya itu kuat.

Maka saat sedang diuji berhentilah bertanya : “Why me?”. Apalagi jika Allah dengan ketetapan-Nya sudah berkata: “Why not?”. Jalani saja, terima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya. Sebab kadang sesuatu yang baik di mata manusia belum tentu baik dimata Allah, demikian pula sesuatu yang dimata manusia dianggap buruk bisa jadi itulah ketentuan terbaik menurut Allah.

Dari perjalanan hidup, dan dari kisah Anna Althafunnisa, saya belajar bahwa Jodoh tak akan tertukar. Sesuatu yang bukan jodohnya akan Allah pisahkan dengan jalan-Nya. Kemudian akan Allah pertemukan dengan jodoh sejatinya. Sesuai janji Allah; yang baik untuk yang baik pula, demikian sebaliknya.

Maka inilah do’aku untukmu yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh itu:

Semoga Allah senantiasa menjagamu, sebagaimana Allah  menjagakan aku untukmu. Semoga kita dimampukan untuk istiqomah menjaga kesucian cinta karena Allah, sebagaimana cintanya Ali kepada Fathimah, atau cintanya Rasulullah kepada Khadijah.

Sebab yang terjaga, hanya untuk yang benar-benar menjaga. Keep istiqomah!

Your Anna Althafunnisa,
Rizki Pratiwi Abdullah.

The Rest of My Life

IMG_20170107_083055.jpg

Pagi itu langit begitu cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya sembari bertasbih memuji kebesaran Rabb nya. Aku sedang di dapur, menyiapkan makanan kesukaan kalian, membumbuinya dengan cinta agar jadi candu yang membuatmu dan anak-anak selalu rindu, rindu aroma masakan rumah. Walaupun seperti yang kau tahu, aku tidaklah mahir memasak, namun aku akan selalu berusaha membuat masakanku menjadi enak agar engkau dan anak-anak lebih mencintai masakan rumah daripada masakan di restoran-restoran mewah. Bukan karena alasan penghematan tentunya, ini lebih kepada ibadah, inilah jihad sederhana seorang perempuan yang sedang mengemban peran sebagai istri dan sebagai ibu di kepingan surga bernama rumah tangga.

Sembari menunggu masakan matang sesekali dari jendela aku mengamati kalian yang sedang asyik bercengkerama di halaman belakang. Anak-anak terlihat bahagia menikmati liburan mereka. Sayup-sayup terdengar suara merdu anak-anak kita yang sedang muroja’ah hafalan qur’an, disamping mereka kulihat engkau sedang menyimak penuh keharuan.

“al maalu wal banuuna zii natul hayaatiddunyaa, wal baaqiyaatus shoolihaatu khoirun ‘inda rabbika tsawaabaw wa khoirun amalaa…” ucap sang kakak yang kemudian disambung oleh sang adik “wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardho baarizah, wa hasyarnaahum falam nughoodir minhum ahadaa..”

ahh… tak terasa air matakupun menggenang di sudut mata,  ikut terharu bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah bagi para orang tua selain menyaksikan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu mencintai al-quran. “rabbi, habli minaashoolihiin…” lirihku dalam hati.

Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku, sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat al-quran yang kau dan anak-anak lafalkan. Bagiku itulah melodi paling merdu, lebih merdu dari alunan musik yang paling syahdu. Apalagi surah yang sedang kalian muroja’ah itu mengingatkanku pada sebuah peristiwa, moment teristimewa dalam hidup kita. Yang kelak pada suatu masa akan kita ceritakan kepada anak-anak kita, ketika nanti mereka bertanya: apa mahar yang dulu diberikan ayah saat menikahi ibu mereka.

“Mom.. I’m hungry..” ucap si kecil sambil memeluk kakiku dari belakang. Rupanya aroma masakanku yang sudah matang begitu menggodanya untuk menghampiriku ke dapur. “oke, I have finished, honey. Let’s breakfast” balasku sambil meraihnya, menggendongnya dan menatap matanya penuh cinta.

Dan matahari perlahan mulai naik ke permukaan, seiring rasa syukur kita dalam kebahagiaan yang sederhana.

Bumi Allah, 2027.