Anak Perempuan Ibu

Besok kalau kamu menjadi pasangan seseorang, katakan padanya untuk berjanji & mengizinkanmu menjadi apapun yang kamu mau karena menjadi isteri bukan berarti tidak lagi bisa mewujudkan mimpi. Tunjukkan padanya bahwa kamu tetap memahami peranmu dengan baik & tetap bisa menunjukkan tanggung jawabmu.

Bila besok kamu menjadi pasangan seseorang, biarkan dia memimpinmu tapi jangan biarkan dia menguasaimu karena hidup seseorang tidak ada dalam kuasa tangan manusia. Kamu tetap memiliki pendapat, kamu tetap memiliki perasaan, yang itu semua harus bisa kamu kompromikan.

Mengalah tidak selalu menyelesaikan masalah. Pastikan bahwa laki-laki yang nantinya mengajakmu hidup bersama adalah laki-laki yang bisa diajak berdiskusi, bukan menang sendiri. Pastikan bahwa dia bisa melihat masalah dengan sudut pandang yang luas.

Bagaimana caranya kamu tahu semua itu? Kamu bisa mengenali pilihan katanya ketika berbicara. Kamu pun bisa mengenali dari setiap keputusan yang dia ambil dalam hidupnya sebelum dia bertemu denganmu.

Katakan padanya bahwa kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri. Katakan padanya bahwa suatu hari nanti kamu pasti akan rindu ibu & ayahmu, pastikan dia laki-laki yang mengerti hal itu. Karena ibumu telah menjadi ibunya, ayahmu telah menjadi ayahnya.

Katakan padanya bahwa suatu hari dia akan menjadi sebab besar kamu masuk surga, sementara surganya ada pada restu orang tua. Buatlah dia percaya bahwa kamu akan membantunya untuk berbakti kepada orang tuanya juga kepada orangtuamu. Karena anak perempuan ibu ini akan menjadi bidadari semesta. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi pendamping laki-laki biasa. Dia harus luar biasa, setidaknya menurut ibu.

img_20170222_083403

Advertisements

Belajar dari Ainun Habibie

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.” ~ Ainun Habibie.

Ibu Ainun Habibie adalah salah satu perempuan Indonesia yang menginspirasi saya. Beliau adalah sosok perempuan yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas dan berpendidikan tinggi. Namun itu semua tidak lantas membuat beliau melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Beliau tetap  mempriotaskan keluarga di urutan nomor satu. Hal yang saya yakini menjadi salah satu faktor kunci kesuksesan sang suami dan anak-anak tercinta hingga mengantarkan mereka menjadi putra terbaik bangsa yang mengharumkan nama Indonesia.

Suatu ketika Ibu Ainun ditanya, mengapa beliau tidak bekerja saat mendampingi Pak Habibie melanjutkan study S3 di Jerman, padahal di Jerman beliau juga punya kesempatan untuk tetap bekerja dan melanjutkan kariernya . Maka beginilah jawabannya:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?.

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja?

Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu.”

Dari Ibu Ainun, saya belajar bahwa sebagai perempuan kita harus tahu skala prioritas, kapan saatnya terus melangkah ke depan, dan kapan saatnya harus sejenak berhenti.

Bukan soal bekerja atau tidak bekerja, tapi soal bagaimana memilah dan memilih prioritas yang lebih utama saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan.

Ya, hidup adalah pilihan. Dan masing-masing kita menjalani apa yang kita pilih. Bagi saya pribadi, keluarga adalah prioritas yang utama. Bukan berarti saya tidak ingin bekerja dan berkarir. Tapi bagi saya, karir terbaik seorang perempuan adalah saat ia bisa menjadi madrasah terbaik bagi keluarganya, khususnya bagi anak-anaknya kelak.

Maka itupula yang mendasari mengapa akhirnya saya mengambil kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi ketika Allah memberikan peluang itu kepada saya. Tak pernah terpikir sebelumnya dibenak saya untuk melanjutkan pendidikan hingga strata tiga. Waktu itu saya sudah merasa cukup dengan gelar master yang sudah saya raih. Cita-cita saya selanjutnya adalah ingin menjadi sebaik-baik istri yang mendampingi suami dengan setia apapun keadaannya. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan saya percaya bahwa skenario hidup yang telah ditakdirkan Tuhan itu adalah yang terbaik bagi saya. Sesuatu yang sangat saya syukuri sekarang, saat satu persatu hikmahnya Tuhan tunjukkan. 🙂

Seperti yang dituturkan Dian Sastrowardoyo, artis multitalenta yang juga penuh inspirasi:

Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, perempuan harus berpendidikan tinggi. Karena ia akan menjadi ibu. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas.”

Itu pula yang jadi motivasi saya saat ini. Saya melanjutkan study hingga PhD bukan karena ambisi, bukan pula karena saya ingin mengejar jabatan atau karir tapi agar kelak dimasa depan saya bisa menjadi sebaik-baik madrasah pertama bagi anak-anak yang akan saya lahirkan. InsyaAllah. 🙂

Dan mungkin agar kelak ketiba tiba saatnya saya dipertemukan Allah dengan jodoh sejati saya, saya telah selesai dengan diri saya. Hingga saya tinggal memfokuskan diri saja untuk menjadi sebaik-baik pendamping baginya. Seperti yang selalu dipesankan mama kepada saya sejak saya masih remaja:

“jadilah pendamping yang setia, apapun keadaaannya.”

Juga seperti yang ibu Ainun tuturkan saat Pak Habibie meminangnya sebagai isteri:

“Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi isteri yang baik, tapi aku janji akan selalu mendampingi kamu.”

Begitulah kelak aku, saat menjadi pendamping hidupmu. InsyaAllah. Kamu, yang namanya telah tertulis di Lauhul mahfuzh itu. 🙂

The next Ainun,

Rizki Pratiwi Abdullah.

img_20170131_154222_728

Matematika

Setiap weekend, saya berusaha mengagendakan waktu khusus untuk membaca buku-buku terkait parenting.

Weekend kali ini, saya memilih buku berjudul “Tuhan Pasti Ahli Matematika” karya Profesor Hadi Susanto, Beliau adalah profesor muda Indonesia. Saat ini beliau merupakan Associate Professor in Applied Mathematics di Universitas of Essex, UK.

img_20170128_202150

Mungkin ada yang bertanya-tanya; apa hubungannya buku ini dengan ilmu parenting?Kalau dilihat dari judulnya, buku ini memang tidak menjelaskan secara eksplisit tentang Parenting. Tapi mengapa saya memasukkannya dalam daftar list bacaan parenting? Karena buku ini memberikan pencerahan tentang bagaimana cara pandang kita terhadap matematika, bagaimana menjadikan matematika itu mengasyikkan & tidak menyeramkan seperti momok sebagian besar orang tentang matematika selama ini.

Nah, jika kelak Allah memercayakan saya menjadi ibu, insyaAllah, saya ingin menjadi ibu yang mampu memberikan sudut pandang positif kepada anak-anak saya tentang matematika, bahkan kalau bisa menjadikan mereka mencintai matematika. Sebab sejauh yang saya pahami, matematika adalah salah satu ilmu yang penting untuk dikuasai. Mengapa?

Karena ternyata matematika merupakan ilmu yang tak terpisahkan dari ilmu syari’at yang termaktub dalam al-quran & hadits. Menghitung waris itu pakai matematika, Ilmu Falak untuk mengetahui kalender hijriah terkait dengan shalat & puasa menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga pakai ilmu matematika, bahkan salah satu faktor kemenangan Rasulullah SAW dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah dalam menggunakan ilmu matematika sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah al Nabawiyah.

Sebelum Perang Badar, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa orang sahabat Nabi Saw, berhasil menangkap dua orang budak pasukan Quraisy. Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada budak tersebut, “beri tahukan kepadaku perihal orang-orang Quraisy, berapa jumlah mereka?” salah seorang budak itu menjawab, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Beliau bertanya, “Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, “Banyak.” Beliau bertanya lagi, “Berapa kekuatan mereka?” keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau lalu bertanya berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap harinya?” keduanya menjawab, “kadang-kadang sehari sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.”

Rasulullah Saw., bersabda, “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja diantara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits, Zam’ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.

Rasulullah Saw., lalu menghadap ke khalayak pasukan muslim, “inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan.”

Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut,tampak sekali Rasulullah Saw., mengetahui secara persisi kondisi kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum muslim dengan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada dibalik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw., ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari, kadang sembilan ekor, kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw., langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu beliau menanyakan jumlah pemuka kaum Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekedar nama. Namun hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?

Dan ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga  orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah -keduanya bersaudara- dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan sahabat nabi dari kalangan Muhajir.

Rasulullah Saw., mengirimkan tiga orang ksatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw., tidak akan menghadapkan sahabat yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingkan dengan ksatria yang memiliki jam terbang yang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.

Maka Rasulullah Saw., mengirimkan Ubaidah, Hamzah dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi’ah dan Ali menghadapi Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi’ah dan Al Walid terkapar. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama memberikan satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, ksatria muslim menang gemilang.

Itu sekedar satu contoh bahwa ilmu matematika sangat berguna dalam memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja diatas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah Swt.

Seorang hamba Allah yang cerdas menggunakan ilmu Matematika bisa melampaui kualitas ibadah hamba Allah yang lugu tidak menggunakan logika matematika. Contoh hal ini adalah kisah tentang dzikir Juwairiyah, istri Rasulullah Saw.

Imam muslim meriwayatkan, Nabi Saw., keluar dari sisi Juwairiyah pagi-pagi untuk shalat subuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu dhuha, sementara Juwairiyah masih disana. Rasulullah bertanya, “Kau masih duduk seperti ketika kutinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “iya.”. Maka Rasulullah Saw., bersabda, “Sungguh aku beritahukan kepadamu empat kalimat sebanyak tiga kali, jika empat kalimat itu dibandingkan dengan apa yang kau baca sejak tadi pagi akan mampu mengimbanginya. Empat kalimat itu adalah; Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi.”

Dalam hadits itu Juwairiyah berdzikir sejak subuh hingga dhuha. Mungkin jumlahnya sampai ribuan. Dan, dzikir itu bisa diimbangi dengan dzikir yang memakai logika matematika yang canggih yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw., yaitu empat kalimat dzikir yang dibaca tiga kali; Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi. Yang artinya, Maha suci Allah dan Maha terpuji Dia, sebanyak ciptaan-Nya, dan sebanyak ridha diri-Nya, dan sebanyak perhiasan arsy-Nya dan sejumlah kalimat-kalimat-Nya. Siapa yang tahu jumlah kalimat ciptaan Allah? hanya Allah saja. Sebanyak itulah jumlah kalimat dzikir yang dilafadzkan pada pagi itu. Itulah logika canggih matematika yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kecerdasan dan keahlian matematika memang terbukti telah membuat hidup manusia semakin berkualitas.

Buku karya Profesor Hadi Susanto ini adalah sebuah pilihan tepat untuk yang ingin mengenal matematika lebih dekat. Dituturkan dengan gaya bahasa yang asyik & renyah. Membuat kita seolah bukan sedang membahas matematika tapi sedang menikmati kumpulan cerpen yang menarik. Sebuah bacaan bergizi yang menginspirasi. Cocok untuk para pendidik maupun calon pendidik generasi bangsa ini.

Teriring do’a semoga kelak saya memiliki anak-anak yang pintar matematika selayaknya Alfiyah Ibnu Malik. Syukur-syukur kalo yang menjadi ayah dari anak-anak saya kelak ternyata juga pintar matematika. haha! aamiin! 😉

My Mother My Inspiration

img_20170127_230431

If you ask me who knows the best about the meaning of education and I would say; my mother.

a mother is a light from the seventh galaxy. That brightens my soul, endless and eternally. She’s the wind that lays the music of life, so beautiful and miraculous.

After the sunset my mom always took me out and showed me shiny blinking stars, there is Mars, but we both always called them as Lintang Lantik. And my mom always believed, I can reach that star with my knowledge.

She taught me that God knows things beyond everything. For me, she were a heaven. From what I believe from The Hadith that say ;”Whom do you  should respect the most? and the answer would be; your mother, your mother, your mother, then your father.

– Mars.

The Rest of My Life

IMG_20170107_083055.jpg

Pagi itu langit begitu cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya sembari bertasbih memuji kebesaran Rabb nya. Aku sedang di dapur, menyiapkan makanan kesukaan kalian, membumbuinya dengan cinta agar jadi candu yang membuatmu dan anak-anak selalu rindu, rindu aroma masakan rumah. Walaupun seperti yang kau tahu, aku tidaklah mahir memasak, namun aku akan selalu berusaha membuat masakanku menjadi enak agar engkau dan anak-anak lebih mencintai masakan rumah daripada masakan di restoran-restoran mewah. Bukan karena alasan penghematan tentunya, ini lebih kepada ibadah, inilah jihad sederhana seorang perempuan yang sedang mengemban peran sebagai istri dan sebagai ibu di kepingan surga bernama rumah tangga.

Sembari menunggu masakan matang sesekali dari jendela aku mengamati kalian yang sedang asyik bercengkerama di halaman belakang. Anak-anak terlihat bahagia menikmati liburan mereka. Sayup-sayup terdengar suara merdu anak-anak kita yang sedang muroja’ah hafalan qur’an, disamping mereka kulihat engkau sedang menyimak penuh keharuan.

“al maalu wal banuuna zii natul hayaatiddunyaa, wal baaqiyaatus shoolihaatu khoirun ‘inda rabbika tsawaabaw wa khoirun amalaa…” ucap sang kakak yang kemudian disambung oleh sang adik “wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardho baarizah, wa hasyarnaahum falam nughoodir minhum ahadaa..”

ahh… tak terasa air matakupun menggenang di sudut mata,  ikut terharu bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah bagi para orang tua selain menyaksikan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu mencintai al-quran. “rabbi, habli minaashoolihiin…” lirihku dalam hati.

Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku, sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat al-quran yang kau dan anak-anak lafalkan. Bagiku itulah melodi paling merdu, lebih merdu dari alunan musik yang paling syahdu. Apalagi surah yang sedang kalian muroja’ah itu mengingatkanku pada sebuah peristiwa, moment teristimewa dalam hidup kita. Yang kelak pada suatu masa akan kita ceritakan kepada anak-anak kita, ketika nanti mereka bertanya: apa mahar yang dulu diberikan ayah saat menikahi ibu mereka.

“Mom.. I’m hungry..” ucap si kecil sambil memeluk kakiku dari belakang. Rupanya aroma masakanku yang sudah matang begitu menggodanya untuk menghampiriku ke dapur. “oke, I have finished, honey. Let’s breakfast” balasku sambil meraihnya, menggendongnya dan menatap matanya penuh cinta.

Dan matahari perlahan mulai naik ke permukaan, seiring rasa syukur kita dalam kebahagiaan yang sederhana.

Bumi Allah, 2027.

Mama, Bidadari Surga Yang Allah Hadirkan ke Dunia

Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia.
Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Mama adalah perempuan teristimewa dalam hidup saya. Jika pepatah mengatakan kalau ayah adalah cinta pertama anak perempuan, maka ibu adalah sahabat sejatinya. Begitulah peran mama dalam hidup saya. Mama adalah ibu, sahabat terbaik, guru terbaik, penasehat terbaik, motivator terbaik, cheef terbaik, dokter pribadi terbaik, dan teladan terbaik yang mengajarkan saya untuk juga selalu memberikan yang terbaik pada apapun yang bisa saya lakukan.

Dari Mama saya belajar banyak tentang arti kehidupan. Bagaimana seorang perempuan menjalankan perannya sebagai istri, sebagai menantu, sebagai ibu, sebagai mertua dan sebagai nenek dari satu orang cucu.

Terlahir di lingkungan keluarga muslim Muhammadiyah yang taat membuat Mama sejak kecil sudah aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Semasa remaja nya mama sudah menjadi guru relawan di Sekolah Dasar Muhammadiyah. Saat melihat foto-foto Mama waktu remaja, saya jadi ingat kisah Bu Guru Muslimah di film Laskar Pelangi. Seperti itulah Mama saya. Panggilannya pun sama; Ibu Guru Mus. Pagi pergi mengajar ke sekolah naik sepeda menyusuri perkampungan kecil , sorenya mengajar mengaji di surau dekat rumah nenek.

Selepas SMP Mama pun merantau ke Palembang untuk melanjutkan pendidikannya. Cukup lama tinggal di Palembang membuat Mama jago bikin pempek. Saya paling suka cuko pempek buatan Mama. Enaknya Juara! Tak hanya pempek, semua masakan Mama adalah favorit saya. Dan ini juga yang membuat saya salut, meskipun Mama bekerja dan berkarir, Mama tetap menjalankan perannya sebagai istri dan sebagai ibu dengan baik. Mama melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangannya sendiri, Mama sering memanjakan suami & anak-anaknya dengan memasak makanan kesukaan kami semua. Itulah yang membuat kami selalu rindu aroma masakan rumah. Saya sudah berpetualang ke beberapa negara di dunia yang kata orang terkenal dengan kelezatan makanannya, tapi bagi saya tetap tak ada yang lebih lezat dari masakan buatan mama. Karena masakan mama dibuat dengan bumbu cinta yang tak ada duanya di dunia.

Dari Mama pula saya belajar berorganisasi. Saya mengerti apa arti tanggung jawab saat Mama mulai mengajarkan kami bisnis kecil-kecilan saat kami masih SD. Ya, sejak SD saya & kakak saya sudah dilatih Mama untuk jualan. Kami jualan makanan dan mainan di Sekolah. Kami belajar mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepada kami. Belajar jujur, belajar bersosialisasi, dan belajar membangun relasi.

Mama yang juga pernah menjadi juara Lurah Teladan tingkat Provinsi itu juga merupakan tempat saya belajar tentang ilmu bermasyarakat, adab bertetangga dan berdakwah kepada sesama. Satu hal yang selalu saya ingat, Mama suka bagi-bagi makanan ke tetangga, kalau makanannya berkuah pasti dibanyakiin kuahnya supaya bisa dibagi juga dan Mama selalu mengajarkan saya untuk memberikan yang terbaik bagi sesama.

Dalam masalah agama, Mama adalah madrasah pertama yang mendidik anak-anaknya untuk tertib menjaga sholat 5 waktu. Saya masih ingat di ulang tahun saya yang ke 7 saya mendapat hadiah mukenah pertama dari Mama. Mama mengajak saya ke pasar dan membebaskan saya memilih mukenah yang saya suka. Saya senang sekali, meskipun mukenah nya agak kebesaran karena waktu itu mukenah anak belum banyak dijual dipasaran. Tapi dengan keterampilan Mama mengoperasikan mesin jahit, mukenah itupun jadi pas dibadan saya yang mungil.

Oh iya, bicara soal jahit menjahit, Mama itu yang paling kreatif deh. Saya juga masih ingat waktu dulu saya masih kecil Mama sering memberikan reward berupa boneka hasil jahitan tangan Mama sendiri kalau saya berhasil naik tingkat belajar baca Iqro’ nya. Mama juga rajin bikin kue untuk camilan anak-anaknya. Selain melatih kami untuk tidak jajan sembarangan, juga menjaga kebersihan makanan yang kami konsumsi.

Mama juga orang yang romantis,  darah seninya mengalir dalam diri saya. Saya percaya saya bisa jadi juara baca tulis puisi tingkat nasional di ajang POSPENAS dulu itu karena bakat turunan dari Mama.

Tentang kesetiaan saya belajar dari Mama. Sejak awal menikah, entah sudah berapa kali Mama mendampingi Papa berpindah-pindah tempat tugas. Dari satu daerah terpencil ke daerah terpencil lainnya. Mama selalu berusaha jadi pendamping terbaik untuk Papa. Sejak saya remaja Mama sudah berpesan kepada saya jika nanti jadi seorang istri dampingilah suami kemanapun ia pergi. Beradalah disisinya dalam apapun keadaannya, baik senang ataupun susah. Dan pesan itulah yang insyaAllah akan selalu saya jadikan pedoman dalam hidup saya; menjadi pendamping yang setia apapun keadaannya.

Gak akan ada habis-habisnya deh kalo udah cerita tentang Mama. Mama adalah bidadari surga yang Allah hadirkan ke dunia. Perempuan yang menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Pengorbanannya tak terganti, kasih sayangnya tak bertepi.
Mama adalah puisi cinta yang abadi sepanjang masa.

Selamat hari Ibu, Ma. Uhibbuki Fillah! ❤❤❤

Your Little Girl,

Rizki Pratiwi.

Ibu Madrasah Pertama, Ayah Kepala Sekolahnya.

Kita mungkin sudah sering mendengar pepatah arab yang mengatakan “ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya”. Tapi mungkin masih sedikit yang tahu kalau pepatah itu ada lanjutannya, yaitu “..dan ayah adalah kepala sekolahnya”.

Maka tanggung jawab dalam mendidik anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu semata. Bahkan Ayah justru memiliki tanggung jawab yang lebih besar tentang visi, perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasinya.

Apa buktinya?

Dalam Al-Quran secara keseluruhan ada 17 dialog tentang pengasuhan. Yang terdapat di 9 surat. Dari 17 dialog itu, 14 dialog adalah dialog antara ayah & anak, 2 dialog antara ibu dan anak, serta 1 dialog antara orang tua dan anak. Sebagaimana ditulis oleh Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al Muthiri dalam Thesis nya yang berjudul “Hiwar Al-Aba’ Ma’a Al-Abna Fil Qur’anil Karim wa Tathbiqatuhu At-Tarbawiyah” (Dialog Orang Tua dengan Anak dalam Al-Quran Karim & Aplikasinya dalam Pendidikan).

Adapun 14 Dialog Ayah dan Anak yang ada dalam Al-Quran itu ditemukan dalam:

  1. Surat Al Baqarah ayat 130 – 133, memuat dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya dan dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  2. Surat Al An’am ayat 74,  memuat dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya.
  3. Surat Hud ayat 42 – 43, memuat dialog Nabi Hud dengan anaknya.
  4. Surat Yusuf ayat 4 – 5, memuat dialog Nabi Yusuf dengan ayahnya.
  5. Surat Yusuf ayat 11 – 14, memuat dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  6. Surat Yusuf ayat 16 – 18, memuat dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  7. Surat Yusuf ayat 63 – 67, memuat dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  8. Surat Yusuf ayat 81 – 87, memuat dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  9. Surat Yusuf ayat 94 – 98, memuat dialog Nabi Ya’qub dengan anaknya.
  10.  Surat Yusuf ayat 99 – 100, memuat dialog Nabi Yusuf dengan ayahnya.
  11. Surat Maryam ayat 41 – 48, memuat dialog Nabi Ibrahim dengan ayahnya.
  12. Surat Al-Qashash ayat 26, memuat dialog Syaikh Madyan dengan anak perempuannya.
  13. Surat Luqman ayat 13 – 19, memuat dialog Luqman dengan anaknya.
  14. Surat Ash-Shaffat ayat 102, memuat dialog Nabi Ibrahim dengan anaknya, Nabi Ismail.

Selanjutnya 2 dialog antara Ibu dan anak dalam Al-Quran terdapat dalam:

1. Surat Maryam ayat 23 – 26 memuat dialog Maryam dengan janinnya.
2. Surat Al-Qashash ayat 11 memuat dialog Ibu Musa dengan anak perempuannya.

Dan satu dialog lagi adalah dialog antara orang tua dengan anak (tidak disebutkan namanya) yang terdapat dalam Quran Surat  Al-Ahqaf ayat 17.

Jika kita tilik dari  penjabaran diatas, maka dapat kita lihat bahwa dialog yang lebih banyak adalah dialog antara ayah dan anak. Hal ini menegaskan bahwa peran ayah dalam pendidikan anak sangatlah penting sekaligus mematahkan opini sebagian besar masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa tugas mendidik anak adalah sepenuhnya tugas seorang ibu, sedang tugas ayah hanyalah mencari nafkah. Al-quran yang merupakan petunjuk dan pedoman hidup umat Islam telah menggambarkan semua itu dengan jelas dan terang.

Berikut saya kutipkan tulisan ust. Bendri Jaisyurrahman yang berjudul “Negeri Tanpa Ayah’, bagus untuk sama-sama kita jadikan renungan, khususnya untuk para ayah dan calon ayah:

Jika memiliki anak sudah mengaku-ngaku menjadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola. AYAH itu gelar untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak, bukan sekedar ‘membuat’ anak. Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi.

AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja. Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari ‘Umar bin Khattab (radhiyallahu ‘anhu). AYAH durhaka bukan yang bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yang menuntut anaknya shalih dan shalihah, namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya. AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya. AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya.

Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama?

Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi. Banyak anak yang sudah merasa yatim sebelum waktunya, sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya.

Semangat Quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita mengenal Lukman, Ibrahim, Ya’qub, Imran. Mereka adalah contoh AYAH yang peduli. Ibnul Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata,

“Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH.”

Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yang merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak.

Rasulullah yang mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAH-nya. Tetapi nilai-nilai ke-AYAH-an tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya. Nabi Ibrahim adalah AYAH yang super sibuk, jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi. Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

Di dalam Quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan, dimana 14 diantaranya yaitu dialog antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut.

Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid. Harus ada sosok AYAH yang mau menjadi guru TK dan TPA, agar anak kita belajar kisah ‘Umar yang tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yang berkisah, tapi AYAH-lah.

AYAH pengasuh harus hadir di masjid, agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was-was atau merasa terancam dengan hardikan. Jadikan anak terhormat di masjid, agar ia menjadi generasi masjid, dan AYAH-lah yang membantunya merasa nyaman di masjid.

Ibu memang madrasah pertama seorang anak, tetapi AYAH yang menjadi kepala sekolahnya. AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya. Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH ‘kepala sekolah’ tapi AYAH ‘penjaga sekolah’

Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan keduanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan IBU-nya. Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak. Jika ibu tak ada, anak menjadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika.

AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama. Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yang lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi. Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH.’

Demikian, semoga bermanfaat dan dapat sama-sama kita jadikan pelajaran. Yuk, pahami secara utuh, landaskan pendidikan anak-anak kita pada Al-Quran, jadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman bagi kehidupan. Mudah-mudahan dengan begitu Allah mampukan kita untuk membangun negeri ini dengan generasi-generasi qurani. insyaAllah..! aamiin.

Mari memantaskan diri! 😉

Ukhtifillah,

Rizki Pratiwi.