Rizqi

Betapa jarang kita mentafakkuri rizqi. Seakan semua yang kita terima setiap hari adalah hak diri yang tak boleh dikurangi. Seakan semua yang kita nikmati setiap hari adalah jatah rutin yang murni dan tak boleh berhenti. Seakan semua yang kita asup setiap hari adalah memang begitulah adanya lagi tak boleh diganggu gugat.

Padahal, hatta sebutir garampun adalah rizqi Allah yang menuntut disyukuri.

Hatta sebutir garam, menempuh perjalanan yang tak mudah lagi berbulan, untuk menemui pengasupnya yang hanya berpindah dari kamar tidur ke ruang makan. Betapa kecil upaya kita, dibandingkan cara Allah mengirimkan rizqiNya.

Kita baru merenungkan sebutir garam, bagaimanakah bebijian, sayur, ikan, dan buahnya? Bagaimanakah katun, wol, dan sutranya? Bagaimanakah batu, kayu, pasir, dan gentingnya? Bagaimanakah besi, kaca, dan karet rodanya?

Maka seorang ‘Alim di Damaskus suatu hari berkata tentang sarapannya yang amat bersahaja, “Gandum dari Najd, garam dari Marw, minyak dari Gaza, dan air Sungai Yordan. Betapa hamba adalah makhluqMu yang paling kaya wahai Rabbana!” Dia mengingatkan kita pada sabda Rasulullah. “Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya bebarang harta”, demikian yang direkam Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, “Kekayaan sesungguhnya adalah kayanya jiwa.”

Akhirnya, mari kita dengarkan sang Hujjatul Islam. “Boleh jadi kau tak tahu di mana rizqimu”, demikian Imam Al Ghazali berpesan, “Tetapi rizqimu tahu di manakah engkau. Jika ia ada di langit, Allah akan memerintahkannya turun untuk mencurahimu. Jika ia ada di bumi, Allah akan menyuruhnya muncul untuk menjumpaimu. Dan jika ia berada di lautan, Allah akan menitahkannya timbul untuk menemuimu.”

Di lapis-lapis keberkahan, ada keyakinan utuh yang harus ditanamkan, bahwa Allah Yang Mencipta, menjamin rizqi bagi ciptaanNya.

~ Lapis-Lapis Keberkahan, Ust.Salim A.Fillah.

Semangat pagi! semangat menjemput Rizqi. Semoga setiap ikhtiar kita mengundang lapis-lapis keberkahan-Nya. 🙂

img_20170130_071332_061

 

Matematika

Setiap weekend, saya berusaha mengagendakan waktu khusus untuk membaca buku-buku terkait parenting.

Weekend kali ini, saya memilih buku berjudul “Tuhan Pasti Ahli Matematika” karya Profesor Hadi Susanto, Beliau adalah profesor muda Indonesia. Saat ini beliau merupakan Associate Professor in Applied Mathematics di Universitas of Essex, UK.

img_20170128_202150

Mungkin ada yang bertanya-tanya; apa hubungannya buku ini dengan ilmu parenting?Kalau dilihat dari judulnya, buku ini memang tidak menjelaskan secara eksplisit tentang Parenting. Tapi mengapa saya memasukkannya dalam daftar list bacaan parenting? Karena buku ini memberikan pencerahan tentang bagaimana cara pandang kita terhadap matematika, bagaimana menjadikan matematika itu mengasyikkan & tidak menyeramkan seperti momok sebagian besar orang tentang matematika selama ini.

Nah, jika kelak Allah memercayakan saya menjadi ibu, insyaAllah, saya ingin menjadi ibu yang mampu memberikan sudut pandang positif kepada anak-anak saya tentang matematika, bahkan kalau bisa menjadikan mereka mencintai matematika. Sebab sejauh yang saya pahami, matematika adalah salah satu ilmu yang penting untuk dikuasai. Mengapa?

Karena ternyata matematika merupakan ilmu yang tak terpisahkan dari ilmu syari’at yang termaktub dalam al-quran & hadits. Menghitung waris itu pakai matematika, Ilmu Falak untuk mengetahui kalender hijriah terkait dengan shalat & puasa menggunakan ilmu matematika, pembagian zakat juga pakai ilmu matematika, bahkan salah satu faktor kemenangan Rasulullah SAW dalam Perang Badar juga karena ketepatan Rasulullah dalam menggunakan ilmu matematika sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Hisyam dalam kitabnya Al Sirah al Nabawiyah.

Sebelum Perang Badar, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan beberapa orang sahabat Nabi Saw, berhasil menangkap dua orang budak pasukan Quraisy. Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada budak tersebut, “beri tahukan kepadaku perihal orang-orang Quraisy, berapa jumlah mereka?” salah seorang budak itu menjawab, “Mereka ada di balik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Beliau bertanya, “Berapa jumlah mereka?” Keduanya menjawab, “Banyak.” Beliau bertanya lagi, “Berapa kekuatan mereka?” keduanya menjawab, “Kami tidak tahu.” Beliau lalu bertanya berapa ekor unta yang mereka sembelih setiap harinya?” keduanya menjawab, “kadang-kadang sehari sembilan ekor, kadang-kadang sepuluh ekor.”

Rasulullah Saw., bersabda, “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” Lalu, beliau bertanya lagi, “Siapa saja diantara mereka yang merupakan pemuka Quraisy?” Keduanya menjawab, “Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwailid, Al-Harits bin Amir, Thaimah bin Adi, An-Nadlr bin Al-Harits, Zam’ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, dan Umayyah bin Khalaf dan nama-nama lain yang disebut keduanya.

Rasulullah Saw., lalu menghadap ke khalayak pasukan muslim, “inilah (penghuni) Mekah telah melemparkan kepada kalian kekayaan.”

Dalam cerita yang dideskripsikan oleh Ibnu Hisyam tersebut,tampak sekali Rasulullah Saw., mengetahui secara persisi kondisi kekuatan musuh. Jarak antara pasukan kaum muslim dengan pasukan musuh, bisa diketahui oleh Rasulullah dengan detail melalui keterangan salah seorang budak, “Mereka ada dibalik bukit pasir yang engkau lihat di pinggiran paling jauh itu.” Jarak adalah hitungan matematika. Kekuatan musuh juga sangat detail dikorek oleh Rasulullah Saw., ketika dua budak itu menjawab, “Pasukan Quraisy menyembelih unta setiap hari, kadang sembilan ekor, kadang sepuluh ekor.” Maka Rasulullah Saw., langsung tahu jumlah mereka “Kalau begitu mereka antara 900 hingga 1000 orang.” sebab satu ekor unta bisa untuk dimakan kira-kira seratus orang. Lalu beliau menanyakan jumlah pemuka kaum Quraisy dan disebutlah nama-nama. Itu kelihatannya sekedar nama. Namun hal itu terkait juga dengan hitungan matematis kekuatan masing-masing orang pemilik nama. hal itu akan sangat menentukan ketika nanti terjadi duel satu lawan satu. Siapa lawan siapa?

Dan ketika duel satu lawan satu, majulah dari kalangan pasukan Quraisy tiga  orang ahli perang mereka; Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah -keduanya bersaudara- dan Al-Walid bin Utbah. Mereka bertiga ingin berhadapan dengan sahabat nabi dari kalangan Muhajir.

Rasulullah Saw., mengirimkan tiga orang ksatria yang akan mengimbangi kekuatan dan keahlian keduanya. Itu tak luput dari hitungan matematika. Jam terbang memainkan pedang, kekuatan sabetan pedang, kecepatan sabetan pedang, kelincahan gerak, semuanya adalah ukuran matematika. Rasulullah Saw., tidak akan menghadapkan sahabat yang kurang lincah bermain pedang menghadapi jawara ahli pedang kaum Quraisy. Yang lebih tinggi hitungan jam terbangnya dalam perang akan beliau tandingkan dengan ksatria yang memiliki jam terbang yang tidak kalah. Jam terbang adalah juga hitungan matematika.

Maka Rasulullah Saw., mengirimkan Ubaidah, Hamzah dan Ali. Ubaidah yang agak tua berduel dengan Utbah yang juga tua. Hamzah menghadapi Rabi’ah dan Ali menghadapi Al-Walid. Hamzah dan Ali tidak membiarkan lawan mereka sama sekali, dalam satu dua kali terjang Rabi’ah dan Al Walid terkapar. Sementara Ubaidah dan Utbah sama-sama memberikan satu tikaman. Hamzah dan Ali lalu membantu membereskan Utbah. Dalam duel satu lawan satu, ksatria muslim menang gemilang.

Itu sekedar satu contoh bahwa ilmu matematika sangat berguna dalam memenangkan perang terpenting dalam sejarah peradaban Islam, yaitu Perang Badar. Tentu saja diatas segalanya, kemenangan adalah karena pertolongan Allah Swt.

Seorang hamba Allah yang cerdas menggunakan ilmu Matematika bisa melampaui kualitas ibadah hamba Allah yang lugu tidak menggunakan logika matematika. Contoh hal ini adalah kisah tentang dzikir Juwairiyah, istri Rasulullah Saw.

Imam muslim meriwayatkan, Nabi Saw., keluar dari sisi Juwairiyah pagi-pagi untuk shalat subuh di masjid. Beliau kembali (ke kamar Juwairiyah) pada waktu dhuha, sementara Juwairiyah masih disana. Rasulullah bertanya, “Kau masih duduk seperti ketika kutinggalkan tadi?” Juwairiyah menjawab, “iya.”. Maka Rasulullah Saw., bersabda, “Sungguh aku beritahukan kepadamu empat kalimat sebanyak tiga kali, jika empat kalimat itu dibandingkan dengan apa yang kau baca sejak tadi pagi akan mampu mengimbanginya. Empat kalimat itu adalah; Subhanallahi wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi.”

Dalam hadits itu Juwairiyah berdzikir sejak subuh hingga dhuha. Mungkin jumlahnya sampai ribuan. Dan, dzikir itu bisa diimbangi dengan dzikir yang memakai logika matematika yang canggih yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw., yaitu empat kalimat dzikir yang dibaca tiga kali; Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midadakalimatihi. Yang artinya, Maha suci Allah dan Maha terpuji Dia, sebanyak ciptaan-Nya, dan sebanyak ridha diri-Nya, dan sebanyak perhiasan arsy-Nya dan sejumlah kalimat-kalimat-Nya. Siapa yang tahu jumlah kalimat ciptaan Allah? hanya Allah saja. Sebanyak itulah jumlah kalimat dzikir yang dilafadzkan pada pagi itu. Itulah logika canggih matematika yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kecerdasan dan keahlian matematika memang terbukti telah membuat hidup manusia semakin berkualitas.

Buku karya Profesor Hadi Susanto ini adalah sebuah pilihan tepat untuk yang ingin mengenal matematika lebih dekat. Dituturkan dengan gaya bahasa yang asyik & renyah. Membuat kita seolah bukan sedang membahas matematika tapi sedang menikmati kumpulan cerpen yang menarik. Sebuah bacaan bergizi yang menginspirasi. Cocok untuk para pendidik maupun calon pendidik generasi bangsa ini.

Teriring do’a semoga kelak saya memiliki anak-anak yang pintar matematika selayaknya Alfiyah Ibnu Malik. Syukur-syukur kalo yang menjadi ayah dari anak-anak saya kelak ternyata juga pintar matematika. haha! aamiin! 😉

My Mother My Inspiration

img_20170127_230431

If you ask me who knows the best about the meaning of education and I would say; my mother.

a mother is a light from the seventh galaxy. That brightens my soul, endless and eternally. She’s the wind that lays the music of life, so beautiful and miraculous.

After the sunset my mom always took me out and showed me shiny blinking stars, there is Mars, but we both always called them as Lintang Lantik. And my mom always believed, I can reach that star with my knowledge.

She taught me that God knows things beyond everything. For me, she were a heaven. From what I believe from The Hadith that say ;”Whom do you  should respect the most? and the answer would be; your mother, your mother, your mother, then your father.

– Mars.

Menjadi Khadijah mu

Aku ingin mencintaimu dengan ketentuan-Nya, dengan cinta yang halal di mata-Nya.

Aku ingin mencintaimu dengan keridho’an-Nya, seperti Khadijah mencintai Muhammadnya.

Kamu, yang namanya tertulis di Lauhul Mahfuzh itu.

~ Rizki Pratiwi Abdullah.

“She believe in me when no one else did. She accepted me when people rejected me, and she helped me when there was no one else to lend me a helping hand”

~Prophet Muhammad (PBUH) speaking about his wife, Khadija (RA).

img_20170127_113618_207

Ketika Cinta (ku) Bertasbih

Dulu saya mengira kisah Anna Althafunnisa hanyalah sebuah cerita. Namun ternyata kisah itu juga bisa terjadi di dunia nyata. Tapi seperti yang selalu saya yakini bahwa tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di muka bumi ini. Bahkan sehelai daun yang jatuh pun telah Allah tetapkan ketentuannya. Demikian pula kisah perjalanan hidup manusia. Kadang, kenyataannya malah lebih tragis dari sebuah kisah di buku cerita. Namun Allah tetapkan begitu bukan tanpa makna. Selalu ada hikmah yang Allah selipkan didalamnya.  Hikmah yang dibungkus lewat ujian keimanan. Ujian yang Allah berikan untuk menaikkan derajat seorang insan sebagai hamba-hamba pilihan.

Dan Allah paling tahu, bahwa hamba-hamba yang dipilih-Nya untuk menjalani ujian itu pasti mampu. Tak akan Allah berikan ujian melebihi batas kemampuan. Yang diuji dengan ujian hidup yang berat berarti Allah tahu hamba-Nya itu kuat.

Maka saat sedang diuji berhentilah bertanya : “Why me?”. Apalagi jika Allah dengan ketetapan-Nya sudah berkata: “Why not?”. Jalani saja, terima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya. Sebab kadang sesuatu yang baik di mata manusia belum tentu baik dimata Allah, demikian pula sesuatu yang dimata manusia dianggap buruk bisa jadi itulah ketentuan terbaik menurut Allah.

Dari perjalanan hidup, dan dari kisah Anna Althafunnisa, saya belajar bahwa Jodoh tak akan tertukar. Sesuatu yang bukan jodohnya akan Allah pisahkan dengan jalan-Nya. Kemudian akan Allah pertemukan dengan jodoh sejatinya. Sesuai janji Allah; yang baik untuk yang baik pula, demikian sebaliknya.

Maka inilah do’aku untukmu yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh itu:

Semoga Allah senantiasa menjagamu, sebagaimana Allah  menjagakan aku untukmu. Semoga kita dimampukan untuk istiqomah menjaga kesucian cinta karena Allah, sebagaimana cintanya Ali kepada Fathimah, atau cintanya Rasulullah kepada Khadijah.

Sebab yang terjaga, hanya untuk yang benar-benar menjaga. Keep istiqomah!

Your Anna Althafunnisa,
Rizki Pratiwi Abdullah.

The Rest of My Life

IMG_20170107_083055.jpg

Pagi itu langit begitu cerah, burung-burung berkicau dengan riangnya sembari bertasbih memuji kebesaran Rabb nya. Aku sedang di dapur, menyiapkan makanan kesukaan kalian, membumbuinya dengan cinta agar jadi candu yang membuatmu dan anak-anak selalu rindu, rindu aroma masakan rumah. Walaupun seperti yang kau tahu, aku tidaklah mahir memasak, namun aku akan selalu berusaha membuat masakanku menjadi enak agar engkau dan anak-anak lebih mencintai masakan rumah daripada masakan di restoran-restoran mewah. Bukan karena alasan penghematan tentunya, ini lebih kepada ibadah, inilah jihad sederhana seorang perempuan yang sedang mengemban peran sebagai istri dan sebagai ibu di kepingan surga bernama rumah tangga.

Sembari menunggu masakan matang sesekali dari jendela aku mengamati kalian yang sedang asyik bercengkerama di halaman belakang. Anak-anak terlihat bahagia menikmati liburan mereka. Sayup-sayup terdengar suara merdu anak-anak kita yang sedang muroja’ah hafalan qur’an, disamping mereka kulihat engkau sedang menyimak penuh keharuan.

“al maalu wal banuuna zii natul hayaatiddunyaa, wal baaqiyaatus shoolihaatu khoirun ‘inda rabbika tsawaabaw wa khoirun amalaa…” ucap sang kakak yang kemudian disambung oleh sang adik “wa yauma nusayyirul jibaala wa taral ardho baarizah, wa hasyarnaahum falam nughoodir minhum ahadaa..”

ahh… tak terasa air matakupun menggenang di sudut mata,  ikut terharu bahagia. Rasanya tak ada yang lebih indah bagi para orang tua selain menyaksikan anak-anak mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang begitu mencintai al-quran. “rabbi, habli minaashoolihiin…” lirihku dalam hati.

Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku, sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat al-quran yang kau dan anak-anak lafalkan. Bagiku itulah melodi paling merdu, lebih merdu dari alunan musik yang paling syahdu. Apalagi surah yang sedang kalian muroja’ah itu mengingatkanku pada sebuah peristiwa, moment teristimewa dalam hidup kita. Yang kelak pada suatu masa akan kita ceritakan kepada anak-anak kita, ketika nanti mereka bertanya: apa mahar yang dulu diberikan ayah saat menikahi ibu mereka.

“Mom.. I’m hungry..” ucap si kecil sambil memeluk kakiku dari belakang. Rupanya aroma masakanku yang sudah matang begitu menggodanya untuk menghampiriku ke dapur. “oke, I have finished, honey. Let’s breakfast” balasku sambil meraihnya, menggendongnya dan menatap matanya penuh cinta.

Dan matahari perlahan mulai naik ke permukaan, seiring rasa syukur kita dalam kebahagiaan yang sederhana.

Bumi Allah, 2027.

The Choice

Pilih Bungkus atau Isi;
Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus Bungkusnya saja dan mengabaikan ISI-nya.
Maka, bedakanlah apa itu “BUNGKUS”-nya dan apa itu “ISI”-nya.
“Rumah yang indah” hanya bungkusnya,
“Keluarga bahagia” itu isinya.
“Pesta pernikahan” hanya bungkusnya,
“Cinta kasih, Pengertian, dan Tanggung jawab” itu isinya.
“Ranjang mewah” hanya bungkusnya,
“Tidur nyenyak” itu isinya.
“Kekayaan” itu hanya bungkusnya,
“Hati yang gembira” itu isinya.
“Makan enak” hanya bungkusnya,
“Gizi, energi, dan sehat” itu isinya.
“Kecantikan dan Ketampanan” hanya bungkusnya; “Kepribadian dan Hati” itu isinya.
“Bicara” itu hanya bungkusnya,
“Kenyataan” itu isinya.
“Buku” hanya bungkusnya;
“Pengetahuan” itu isinya.
“Jabatan” hanya bungkusnya,
“Pengabdian dan pelayanan” itu isinya.
“Pergi ke tempat ibadah” itu bungkusnya,
“Melakukan Ajaran Agama” itu isinya.
“Kharisma” hanya bungkusnya,
“Karakter” itu isinya.
Utamakanlah isinya, namun rawatlah bungkusnya.

Oleh: Emha Ainun Nadjib